SELAMAT MEMPERINGATI HARI KESYAHIDAN IMAM HUSAIN A.S PERISTIWA DI TANAH KARBALA ( HARI ASSURO ) 10 MUHAROM 1439 H


21765467_157167308199144_2542053702094949004_o

ASSALAMU ALIKUM

ASHOLATU WASSALAMU ALAIKA YAA ROSULULLOH MUKHAMMAD SAW,ASHOLATU WASSALAMU ALAIKA  ABAH SYAHIID IMAM HUSEIN A.S  ,ALLOHUMMA SHOLLI WASSALIM ALA SAYYIDIINA MUKHAMMAD WA ALI MUKHAMMAD,’ADADA ROKHMATALLOHI WARZUQNAA SYAFA’ATA ILA YAUMAL QIYYAMAH.

ultimatum_by_miladps3-d34wwus

APA ITU ASSURO,ASSURO DALAM BAHASA ARABNYA ADALAH ASRO YANG ARTINYA ADALAH 10,TANGGAL KE SEPULUH BULAN MUHAROM

Peringatan besar  10 muharom 1439 H,hari tasyu-aa / ASSURO
Pembantaian laskar Imam HUSAIN A.S oleh yazid bin muawiyah bin abu sufyan Cs,dan KESYAHIDAN IMAM HUSAIN A.S Dipadang KARBALA ( IRAQ )
30 september 2017. ( hari sabtu )

index

Cara memperingatinya adalah :

Berada dirumah,jadi anda berada di dalam rumah tidak sedang dalam kegiatan baik nonton film / sinetron / maen game komputer / v call hanya berbaring dan duduk ,tidak makan dan tidak minum mulai terbit fajar sampe ashar,didalam rumah baca sholawat sebanyak bnyaknya.
Sambil mengenang..
Kesyahidan beliau,Betapa keji perlakuan YAZID BIN MUAWIYAH kepada IMAM HUSAIN A.S ditanah karbala.

Setelah ashar membaca doa untuk melaknat yazid “ LAKNATULLOH YAZID BIN MUAWIYAH “ 100 x

Bagi yang bekerja dilapangan,cukup baca sholawat dan kirimkan al fatehah kepada beliau,

KISAH KISAH DIBALIK THE HOLLY  OF KARBALA

Sketsa Imam Husain Bersama Kudanya yang Bernama Zuljanah di Karbala

Satu sosok yg sangat menonjol dalam peristiwa tragedi Karbala adalah Ali Al-Akbar bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, selain Abu Fadhl Abbas.

9bab8cf9d6d502edb482e177087ea9f3--imam-hassan-the-battle
Di dunia ini hanya 3 orang yg wajahnya mirip Rasulullah saww, yaitu Imam Hasan as, Imam Mahdi as dan Ali Al-Akbar.
Kalau kita mendengar hadis yg berbunyi “Tiada pemuda seperti Ali dan tiada pedang seperti Zulfiqar”, maka kita mengetahui bahwa hadis tersebut ditujukan kepada Imam Ali bin Abi Thalib as.
Namun ada juga pemuda yg keberaniannya mengikuti keberanian Imam Ali as, yaitu Ali Al-Akbar bin Husain.
Sungguh tidak ada orang yg lebih mengenal Ali Al-Akbar kecuali ayahnya yaitu Imam Husain as.

Ketika melepas Ali Al-Akbar menuju medan laga melawan tentara2 yazid, Imam Husain as berdoa, “Ya Allah, Saksikanlah atas orang2 ini , bahwa pemuda yg baru keluar memerangi mereka adalah laki2 yg menyerupai Rasulullah dalam penampilannya, akhlaqnya dan visinya.”
Dari segi penampilan fisik, bentuk wajah, mata, rambut, warna kulit dan sebagainya, Ali Al-Akbar benar2 mirip Rasulullah saww, dan begitu juga dr segi akhlaq, kedermawanannya juga mirip Rasulullah saww.
Saat yg paling menyedihkan bagi Imam Husain as adalah ketika Ali Al-Akbar mengumandangkan azan dan para sahabat beliau as telah jatuh berguguran, selesai mengumandangkan azan Ali Al-Akbar mendatangi Imam Husain minta izin untuk maju ke medan laga. Imam Husain as merestuinya dan mereka berdua saling menangis. Kemudian Ali Al-Akbar pergi ke tenda Sayyidah Zainab, memohon pamit pada bibinya dan mereka yg ada ditenda.
Setelah selesai, Ali Al-Akbar kemudian melangkah maju ke medan laga, namun Imam Husain as memanggilnya sejenak, beliau as berkata, “Engkau tau betapa ini sangat sulit buatku, sebagai seorang ayah melihat putranya pergi, kemarilah aku ingin memelukmu untuk yg terakhir kali”, kemudian Ali Al-Akbar menghampirinya dan mereka saling berpelukan untuk yg terakhir kali.
Setelah itu Ali Al-Akbar melangkah maju ke medan laga, dihadapan tentara Yazid yg berjumlah ribuan dia mengucapkan syairnya yg terkenal :
Aku Ali putra Husain putra Ali…
Kami dan rumah Allah memiliki kebenaran sang Nabi…
Akan kuserang kalian dengan tombakku hingga aku habiskan kalian…
Kan kupukul kalian dengan pedang akan kulindungi ayahku…
Kan kuserang kalian dengan gabungan Hasyim dan Ali dalam satu kali serangan…
Aku bersumpah demi Allah anak “si pemimpin tidak sah” itu tidak akan mampu mengalahkan kami…
Ali Al-Akbar kemudian maju bertempur dengan gagah berani, tidak seorangpun berani mendekatinya, beliau berhasil menewaskan 120 tentara Yazid. Setiap kali beliau menoleh melihat ayahnya sambil berteriak, “Assalaamu’alaika Ya Aba Abdillah”, kemudian beliau kembali bertempur.
Setelah beberapa lama kemudian Ali Al-Akbar kembali menemui ayahnya, beliau berkata, “Wahai ayahku rasa haus ini begitu sangat”.
Namun Imam Husain as tidak memiliki air, beliau as berserta keluarganya telah berhari2 kehausan tanpa air, mereka dikepung oleh pasukan Yazid dihalangi untuk mengambil air.

6420_1157696353367_1556504484_30392430_4441127_n1

Imam Husain as berkata pada Ali, “Putraku, pergilah berjuang, pada saatnya nanti kakekmu Rasulullah saww akan memberimu air dari telaga haudh”.
Kemudian Ali Al-Akbar pergi melanjutkan bertempur, ketika beliau sedang sibuk melawan ribuan pasukan Yazid, tiba2 salah satu dari pasukan berteriak, “Seluruh dosa bangsa Arab akan aku pikul bila aku tidak mampu memenggal kepala Ali”, lalu dia maju dan dari belakang dipukulkan pedangnya kearah kepala Ali Al-Akbar.
Ali Al-Akbar jatuh dari kudanya kemudian tentara Yazid dengan biadab bersama2 menyerang beliau dengan tombak, pedang dan lain2, terdengar Ali Al-Akbar berteriak, “Assalamu’alaika ya abata, adrikni ya Aba Abdillah” Salam atasmu wahai ayahku, tolonglah aku wahai Aba Abdillah.
Ketika Imam Husain as berhasil mendekati tubuh Ali Al-Akbar, Ali Al-Akbar mengucapkan salam pada beliau as namun hanya dengan satu tangan, ketika Imam Husain as mengangkat salah satu tangan Ali Al-Akbar, beliau as melihat kepala tombak menancap menembus dada Ali Al-Akbar.

Kemudian Imam Husain as menghadapkan mukanya ke arah Najaf, sambil berucap, “Wahai ayahku Amirul Mu’minin, engkaulah yg mengangkat pintu benteng khaibar, namun engkau belum pernah mencabut tombak yg menancap di dada cucumu ini, datanglah ke Karbala dan saksikanlah apa yg aku saksikan”.
Ali Al-Akbar terlihat tersenyum dan menangis, Imam Husain as bertanya, “Wahai anakku mengapa engkau tiba2 tersenyum?”
“Aku tersenyum karena bahagia telah melihat wajah kakekku Rasulullah, nenekku Fatimah, kakekku Ali, pamanku Hasan “, ucap Ali Al-Akbar.
Imam Husain as bertanya, “Lalu mengapa engkau menangis?”
Ali Al-Akbar menjawab, “Aku menangis karena tiap kali air matamu menetes, aku tak sanggup melihat nenekku Fatimah Az-Zahra as menangisi setiap tetesan air matamu wahai ayahku”.

16945_101839863179178_100000594955064_45844_4729973_n1

Abu Fadhl Abbas, adik dr Imam Hasan as dan Imam Husain as lain ibu, dr kecilnya selalu memanggil kedua Imam Ahlulbait as tersebut dengan panggilan Maula (Pemimpin), namun pada akhir hayatnya menjelang kesyahidan beliau, memanggil Imam Husain as dengan Kakak atas permintaan terakhir Imam Husain as.
Di hari Asyura, Imam Husain as memeluk Abu Fadhl Abbas bin Ali bin Abi Thalib yang telah terbaring.

Pemandangan yang menyedihkan. Tangannya sudah terpisah. Panah menusuk mata kanannya dan darah menghalangi pandangan mata kirinya.
Abbas merasakan kehadiran Imam Husain as melalui suara langkahnya dan berkata;
“Maulaku, mengapa engkau ambil resiko untuk datang ke sini? Kembalilah ke tenda dan temui Sukainah.”

 

Imam Husain as berkata, “Saudaraku, seluruh hidupmu kau persembahkan untukku dan anak-anakku. Adakah sesuatu yang bisa aku lakukan di akhir hidupmu?”
Abbas menjawab, “Maulaku, aku punya beberapa keinginan. Ketika aku lahir, yang pertama aku lihat adalah wajahmu dan sudah menjadi keinginanku ketika aku wafat pandanganku juga tertuju padamu. Mataku yang satu ditembus oleh panah, dan yang satunya dipenuhi darah. Jika engkau berkenan untuk membersihkan mataku agar aku dapat melihatmu dan terpenuhilah keinginanku.
Keinginanku yang kedua, janganlah bawa tubuhku ini ke kemah. Aku telah berjanji membawa air kepada Sukainah dan karena aku gagal memenuhi keinginannya, aku tidak sanggup memandang wajahnya walaupun aku sudah wafat. Lagipula aku tahu, serangan yang engkau terima sejak pagi hari telah melelahkanmu dan membawa tubuhku ke kemah akan lebih melelahkan bagimu.
Keinginanku yang ketiga, jangan sampai Sukainah datang ke sini dan melihat kondisiku. Aku mengetahui cinta dan kasih sayang yang dia berikan untukku. Pemandangan tubuhku di sini akan membunuhnya.”

Imam as pun membersihkan darah, Abbas memperbaiki pandangannya pada Imam. Imam Husain as memeluk Abbas dan mencium keningnya.
Imam Husain berkata, “Abbasku, aku pun juga memiliki satu permintaan darimu. Sejak kecil engkau selalu memanggilku ‘Maula’ (Pemimpin). Untuk terakhir ini, panggillah aku ‘kakak’ dengan suara beratmu.”
Abbas, dengan suara terbata-bata kemudian berkata, “Kakakku… Kakakku…”
Imam Husain as pun menangis, “Oh Abbas saudaraku, apa yang telah mereka lakukan terhadapmu? Siapa yang ada disisiku sekarang ini?”

farshchian_-_asre_ashora

PERPISAHAN ISTRI AL HUSAIN

Menjelang detik-detik perpisahan dengan suaminya, Imam Husain as, Sahr Banu bersimpuh dengan beliau. “Wahai putera Rasul.” Ucap Shar Banu. “Demi ibundamu Fatimah Azzahra, pikirkanlah nasibku nanti, karena di sini akulah orang yang paling asing. Selama ini aku bernaung di bawahmu dan dengan ini aku menjadi mulia. Namun, katakanlah apa yang aku lakukan nanti setelah kepergianmu? Aku bukanlah orang Arab (‘ajam), dan engkau sendiri tahu besarnya permusuhan antara Arab dan ‘ajam.”
Sambil berlinang air mata, Imam Husain as menjawab:
“Janganlah cemas, sebab Allah yang telah mengantarkanmu dari negeri ajam ke negeri Arab mampu mengembalikanmu ke negerimu lagi. Nantikanlah nanti sepeninggalku; Dzuljanah akan datang ke perkemahan. Naikilah Dzuljanah dan pergilah dari sini, dan ketahuilah pasukan musuh tidak akan bisa berbuat apa-apa terhadapmu.”

Diriwayatkan bahwa ketika Dzuljanah kembali dalam keadaan tak bertuan, Shar Banu ikut menyambutnya dengan ratap tangis hingga kemudian mengendarainya untuk pergi ke negeri asalnya. Sebelum pergi, beliau sempat ditegur oleh Zainab.
Zaenab berkata :
“Hai menantu Fatimah Azzahra, apa gerangan yang sedang engkau pikirkan? Adakah engkau akan menambah berat beban kesedihan kami dengan kepergianmu?” Ujar Zainab.
“Aku harus pergi sesuai perintah suamiku, Husain.” Jawab Sahr Banu kepada adik iparnya itu.

Kepergian Sahr Banu menuju negeri Persia itu dilepas dengan derai tangis orang-orang yang ditinggalkannya. Saat Dzuljanah sudah siap mengantarkan perjalanan jauh itu, Imam Ali Zainal Abidin Assajjad berkata lirih kepada ibundanya:
“Ibunda, bersabarlah hingga aku ucapkan salam perpisahan denganmu.”

Imam Assajad berusaha bangkit, namun tenaganya yang tersisa tak mendukungnya untuk berbuat itu sehingga sang ibu mendekati sendiri anaknya. Sambil memeluknya erat-erat beliau berucap:
“Aku harus pergi dari sini sesuai perintah ayahmu. Aku telah menitipkanmu kepada bibimu, Zainab, karena aku tahu dia lebih penyayang daripada aku.”
Ibunda Assajjad akhirnya pergi dibawa oleh Dzuljanah. Beberapa orang pasukan musuh sempat melihat bayangannya dari kejauhan saat beliau bergerak pergi seorang diri. Mereka berusaha mengejarnya, namun mereka terpaksa kembali lagi setelah kecepatan kuda Dzuljanah tak terkejar oleh kuda-kuda pasukan musuh.

Dalam perjalanan, Sahr Banu sempat berpapasan dengan kafilah yang sedang bergerak menuju Kufah. Orang-orang kafilah berhenti saat menyaksikan seorang wanita bercadar sendirian mengendarai kuda yang penuh luka. Seorang lelaki yang mengetuai kafilah mencegat beliau dan bertanya:
“Hai siapa kamu? Mengapa kamu menempuh perjalanan seorang diri di tengah sahara?”
Suara lelaki itu dikenal oleh Sahr Banu. Pria itu ternyata adik beliau dan setelah saling menyadari, beliau balik bertanya: “Adikku, hendak kemanakah kamu?”
Pria itu menjawab:
“Aku hendak menemui suamimu. Karena dia telah menuliskan surat kepadaku dan menyatakan bahwa beliau akan berperang dengan sekelompok musuh, dan sekarang aku datang bersama teman-temanku untuk membantunya.”
Sahr Banu menjawab:
“Tak usah kamu pergi. Kembalilah karena Husain sudah terbunuh dalam keadaan kehausan, dan inilah kudanya sekarang aku kendarai.”
Berita ini mengejutkan sang adik yang segera jatuh tersimpuh ke pasir. Sahr Banu kemudian melanjutkan perjalanan ke arah tujuan sebagaimana mereka juga melanjutkan perjalanan ke arah tujuan mereka, setidaknya untuk menyaksikan bagaimana nasib keluarga Imam Husain as.

Dengan bantuan dan perlindungan dari Allah, janda Imam Husain as berdarah bangsawan Persia itu akhirnya tiba di bumi leluhurnya. Beliau menetap di kota Rey dan meninggal di sana. Jasad suci beliau dikebumikan di sebuah gunung di pinggiran kota Teheran. Lokasi makamnya selalu disesaki para peziarah hingga kini.

perang-karbala

JANGAN KALIAN KIRA ORANG SYAHID ITU SUDAH MATI, MEREKA SEMAKIN HIDUP DAN MEMPEROLEH RIZKI DARI TUHANNYA….*

Ya Husain… Mereka pikir dengan memerangi ayahmu, meracuni abangmu dan membunuh dirimu; maka mereka akan menang dan engkau akan dilupakan.
Mereka tidak tau, kesyahidan telah membuat engkau semakin hidup. Maka benar kata Tuhanmu, “Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah telah mati, mereka hidup… ” (QS. Albaqarah: 154) .
Ya Husain, engkaulah “sayyid” pemimpin para syuhada yang semakin hari semakin hidup. Engkau lah yang semakin hari semakin memperoleh rizki dari Tuhanmu. Karena doa dan air mata kami senantiasa mengalir untuk ruh suci para pejuang risalah Nabi sepertimu.
Wahai cucunda penghulu alam, mereka tidak bisa membungkam spirit Muharram. Mereka tidak bisa menghentikan panji perlawanan atas ketidakadilan. Mereka tidak bisa menghentikan nafas Muhammad yang mengalir dalam jiwamu dan dalam darah pengikut setiamu sampai hari perhitungan tiba.
Wahai para penghulu pemuda di surga, jika Gunung Sinai menjadi mulia karena ada jejak Musa dalam perjumpaan dengan Tuhannya, maka bagaimana mungkin Padang Karbala menjadi biasa manakala darah suci puluhan anggota keluarga Nabimu tumpah di atasnya.

Wahai putra Azzahra, jika seekor anjing masuk surga gara-gara sampai mati menemani 7 aulia, maka seperti kata Syafii “Bagaimana kami bisa menjadi Rafidhi hanya karena senantiasa bershalawat dan membela hak-hak suci Keluarga Nabi.”
Ya Aba Abdillah, mereka resah dan takut manakala namamu selalu disebut. Mereka marah dan gundah manakala Asyuramu diunggah. Namamu, nama ayahmu dan nama kakekmu selalu menggetarkan dunia yang sedang mengalami disorientasi arah.

Mereka tau gelarmu “Sayyid al-Syuhada”. Namun mereka ingin riwayat perlawanan dan suri tauladanmu dalam berjuang dilupakan. Mereka tidak tau, bahwa Islam yang engkau dan kakekmu ajarkan adalah agama perlawanan terhadap tirani yang korup dan sewenang-wenang. Tirani yang hidup sepanjang zaman. Tirani dalam wujud zionisme, bahkan dalam topeng Islam.

LABAIK YAA ROSULULLOH LABAIK YAA HUSEIN

Husein 5

MBAH ARIFYANTO

085731493248

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s