HATI HATI DENGAN NAMA HUMAIROH


12986956_10208314842303015_4541863528249829022_n

Artikel dari Mas Aris susanto

ANDA PUNYA PUTERI PEREMPUAN dan HENDAK MENAMAINYA dengan NAMA “HUMAIRA”? TUNGGU DULU! BACA INI SEBENTAR.
.
.
HUMAIRA; TINJAUAN KRITIS BAHASA ARAB
.
.
[1]
Ibnu Hajar, dalam kitab “Fathu-l Bari Syarh Shahih al-Bukhari”, hadits Bukhari jilid 3 halaman 164 hadits 3.547 (versi Arab) dan jilid 4 bab 56 hadits nomor 747 (versi bahasa Inggris), atau http://www.sunnah.com/bukhari/61/56, dari Rabi’ah bin Abi ‘Abdur-Rahman: “Sami’tu Anas ibna Maalik, [aku mendengar dari Anas bin Malik], yashifun nabiyya shollallahu ‘alayhi wa sallam qala kaana… AZHARA-L Lawn [bahwa Rasulullah.saw, the Prophet.saw, had a rosy color, memiliki warna kulit putih kemerah-merahan, merah jambu]”.
.
.
[2]
Apa penjelasan Ibnu Hajar terkait hadits ini? Ibnu Hajar dalam syarh-nya menjelaskan: “Qawluhu azhara-l lawn, annahu kana ‘abyadha musyarraban humratan, [bahwa maksud dari “AZHARA-L Lawn”, adalah putih kemerah-merahan, merah jambu, abyadha musyarraban humratan]”.
.
.
[3]
Dalam Syama’il Muhammadiyah jilid 1 hadits no.6, The Noble Features of Rasulullah, bahwa setiap kali Ali bin Abi Thalib.ra mendeskripsikan karakter atau ciri fisik Rasulullah.saw, Ali.ra selalu mengatakan: “Abyadhu musyarrobun, that the complexion of Rasulullah.saw was [white with redness in it]”, bahwa rona warna elok kulit Rasulullah.saw adalah “abyadhu musyarrabun”, putih kemerah-merahan/merah jambu”.
.
.
[4]
Anas bin Malik, pelayan Rasulullah.saw, Ali bin Abi Thalib.ra keponakan Rasulullah.saw, menyebut Rasulullah, AZHAR. “Al-‘Arabu yaquulu li-l abyadh musyarraba humratan, AZHAR”, orang-orang Arab mendeskripsikan putih kemerah-merahan atau merah jambu, dengan sebutan, AZHAR”.
.
.
[5]
Rasulullah.saw memiliki karakter “abyadh musyarraban bi-humra”, putih kemerah-merahan atau merah jambu dan oleh karena itu beliau disebut… AZHAR. Fa-idzan, maka, ibnatuhu, puteri perempuan beliau.saw yakni Fathimah, hamilat shifatahu, pun menyandang sifat yang sama seperti sang ayah, “baydha musyarabatan bi-humra”, putih kemerah-merahan/merah jambu cenderung pink, dengan sebutan… ZAHRA.
.
.
[6]
Karakter Fathimah puteri Rasulullah.saw ini pun terekam dalam hadits al-Hakim, riwayat Anas bin Malik, yang diriwayatkan dalam kitab “Al-Mustadrak Al-Hakim” (Mustadrak ‘ala-sh Shahihayn) jilid 3 halaman 161: “Saaltu ummiy ‘an Fathimah, aku bertanya kepada ibuku tentang Fathimah puteri Rasulullah.saw, fa-qalat, dan ibuku berkata: “kaanat ka-l qamari laylata-l badri (Fathimah bagaikan bulan purnama di malam hari), aw syamsi kuffira ghamama (atau seperti matahari yang tertutupi awan-awan), idza kharaja mina-s sahab baydha musyarrabatan humratan (dan awan-awan tersebut berwarna putih, with a sense of red, dengan warna kemerah-merahan)”.
.
.
[7]
Karena Fathimah berkulit putih kemerah-merahan, ia dijuluki ZAHRA. Dalam kitab tersohor dan pasti diketahui oleh semua orang yang mendalami bahasa Arab, yakni kitab “Tajul ‘Arus min Jawahiri-l Qamus” karya Muhammad Murtadha az-Zubaidi, jilid 3 halaman 250, az-Zubaidi menjelaskan: “Az-Zahra-u, al-mar’atu-l musyriqatu-l wajh wa-l baydha-ul mustaniratu-l musyarrabatu bi-humra” (ZAHRA, is the woman with a shining face, ZAHRA adalah wanita yang memiliki wajah bersinar atau berseri-seri, and the glowing whiteness with a sense of red, dan wajah putih yang berpendar kemerah-merahan).
.
.
[8]
Jadi, memiliki kulit putih kemerah-merahan atau cenderung pink alias merah jambu, jika itu pada pria, orang Arab menyebutnya: “AZHAR”. Sedangkan jika wanita, orang Arab menyebutnya: “ZAHRA”. Lihat betapa harmoninya dua sebutan ini dalam bahasa Arab, AZHAR-ZAHRA, sama sekali bukan HUMAIRA. Lantas, apa makna/arti sebenarnya sebutan HUMAIRA yang Rasulullah.saw berikan kepada Aisyah istri beliau?
.
.
[9]
Tahukah Anda, kenapa Abu Hurairah disebut “Hurairah” oleh Rasulullah? Karena ia selalu membawa kucing dalam lengan gamisnya. Abu Hurairah selalu makan dengan kucing, duduk dengan kucing, tidur dengan kucing, ke mana-mana selalu membawa kucing, sehingga diriwayatkan Rasulullah.saw berkata kepadanya: “A ma anta bi-muntahin Ya Aba Hurairah?”, tidak akankah engkau berhenti, wahai Bapak Kucing, ke sana-ke mari selalu membawa kucing?”. Sebagian besar kita menganggap sebutan Bapak Kucing ini sebagai sebutan pujian dari Rasulullah, tapi jika kita lihat konteks kenapa Rasulullah.saw memanggil Abu Hurairah dengan sebutan “wahai Bapak Kucing” karena selalu wira-wiri ke sana-ke mari selalu membawa kucing… entahlah. Misal, saya teman Anda, ke mana-mana saya selalu membawa kambing, sampai Anda kemudian berkata kepada saya: “Tidakkah engkau akan berhenti, wahai Bapak Kambing Aris Susanto?” Rrrr… Apakah itu pujian?
.
.
[10]
‘Aisyah… Humaira. ‘Aisyah… yang berpipi kemerah-merahan. Ternyata, istilah “HUMAIRA”, dengan makna yang demikian (wajah atau pipi kemerah-merahan), tidak eksis dalam bahasa Arab. Sebab sebagaimana bukti-bukti poin di atas, wajah/kulit putih kemerah-merahan, dalam bahasa Arab lazim disebut AZHAR dan ZAHRA. Malah sebagian istri Rasulullah.saw rata-rata berkulit putih kemerah-merahan, tapi faktanya Rasulullah tidak pernah menyebut istri-istri beliau yang lain itu dengan sebutan HUMAIRA.
.
.
[11]
Ummu Salamah istri Nabi, memiliki karakter putih kemerah-merahan, tidak dipanggil HUMAIRA. Kemudian istri Nabi yang bernama Maria al-Qibtiyyah, dari kalangan Kristen Koptik, dalam kitab-kitab sejarah digambarkan memiliki paras cantik dan berkulit putih kemerah-merahan sebagaimana khas bangsa Romawi, tapi oleh Nabi tidak dipanggil dengan sebutan HUMAIRA. Hanya ‘Aisyah saja yang dipanggil dengan sebutan HUMAIRA. Why? Limaadza?
.
.
[12]
Dalam kitab “Lisanu-l ‘Arab” karangan Ibnu Mandzhur, dan dalam kitab “Tahdziibu-l Lughah” karangan al-Azhari, bahwa dalam masyarakat Arab: “Asy- syarru-n nisaa-is-suwaida-ul mimradh” (wanita paling tidak elok, adalah wanita yang kehitam-hitaman pucat karena sakit yang diderita), “wa syarrun min-haa, AL-HUMAIRA-UL MIHYAADH” (dan yang paling tidak elok dari wanita, adalah mereka yang rona-kulitnya kemerah-merahan KARENA HAIDH).
.
.
[13]
Wanita Arab padang pasir pada masa itu, ketika jatuh sakit selalu berubah menghitam. Yakni rona-kulitnya berubah setahap demi setahap menjadi gelap, karena sakit yang diderita, sehingga mereka disebut dengan sebutan “SUWAIDA-UL MIMRADH”, kulit hitam akibat jatuh sakit, atau banyaknya penyakit yang ia derita.
.
.
[14]
Dan wanita Arab yang selalu “MIHYADH”, atau mempunyai siklus haidh yang lebih cepat/lebih banyak, juga mengalami efek fisiologis/biologis yang sama: warna kulitnya akan mengalami perubahan. Dan karena pada masa tersebut belum ada sesuatu yang bisa dijadikan pembalut yang bisa menahan darah haidh sebagaimana zaman sekarang, darah haidh tersebut terkadang dan bahkan sering, mengalir di kedua kaki. Dari sinilah efek perubahan kulit menjadi kemerah-merahan terjadi, sehingga saking agak tidak senangnya orang Arab, wanita demikian disebut “MIHYADH”, dan menggambarkannya dengan sebutan “HUMAIRA”, sebagai tanda seringnya ia mengalami menstruasi. Yakni, kondisi menstruasi, menjadikan seorang wanita mengalami perubahan rona kulit, dan disebutlah ia dengan sebutan: “AL-HUMAIRA-UL MIHYADH”.
.
.
[15]
Dan subhanallah, Rasulullah.saw menggunakan istilah “HUMAIRA” ini benar-benar pada tempatnya, pas sesuai maknanya (kayfa laa, bagaimana tidak, beliau.saw adalah orang Arab yang dididik di lingkungan bahasa Arab terbaik sejak kecil). Dan kita mengenal hadits bagaimana Rasulullah.saw memanggil ‘Aisyah: “YAA HUMAIRA”, dan bahkan ada hadits lain yang redaksi kalimatnya: “YAA HUMAIRA-S SAQAYN”, wahai wanita yang merah “kedua kakinya” (Anda sudah paham makna ini). Catatan: hadits “humaira-s saqayn” ini, yakni di mana konon diriwayatkan bahwa ‘Aisyah kerap mengalami siklus haidh, masih saya teliti validitasnya.
.
.
[16]
Thus, dengan demikian, HUMAIRA, berarti MIHYADH, kulit kemerah-merahan, dikarenakan faktor haidh/menstruasi yang teramat kerap atau volume darah haidh yang begitu tinggi.
.
.
[17]
Abu Hayyan at-Tawhidi dalam kitab “Al-Basa’ir wa-d Dakha’ir” jilid 2, dan az- Zamakhsyari dalam kitab “Rabi’u-l Abrar” jilid 1 halaman 461: “Al-Arab taquul (orang-orang Arab biasa berkata): Syarru-n nisaa…” sejelek-jelek wanita, “…al-Humaira-ul Mihyadh, wa-s Suwaida-ul Mimradh”.
.
.
[18]
SEBAGAI PENUTUP. Seorang ulama besar, Ibnu-l Qayyim al-Jawziyyah, mengerti makna kata HUMAIRA ini. Beliau mengetahui benar bahwa HUMAIRA adalah kata yang bermakna negatif, sehingga beliau ME-REJECT TOTAL, MENOLAK TOTAL, SEMUA hadits Nabi Muhammad.saw yang memuat kata: “YA HUMAIRA”! Silakan di-cek dalam kitab Ibnu-l Qayyim al-Jawziyyah “Al- Manaru-l Munif fi-sh Shahih wa-dh Dha’if” halaman 45 (http://bit.ly/manarulmunif).
.
.
[19]
Di halaman 45 tersebut Ibnu-l Qayyim berkata: “KULLU HADIITSIN FIIHI “YAA HUMAIRA” AW DZIKRU-L “HUMAIRA”, FA-HUWA KADZIBUN MUKHTALAQ!” (Seluruh hadits yang di dalamnya memuat kata “YA HUMAIRA”, atau menyebut “HUMAIRA”, ADALAH HADITS MAUDHU’! PALSU! BOHONG! ALIAS DIBUAT- BUAT!”) —- Dan kita tahu, hadits “YA HUMAIRA” ini ada dalam hadits Ibnu Majah (satu dari 6 Kitab Hadits Terpercaya), dan konon juga diriwayatkan oleh an-Nasa’i, di mana disebutkan bahwa isnad hadits ini adalah SAHIH. Tapi di lain pihak, ulama sekaliber Ibnu-l Qayyim, menyatakan hadits “YA HUMAIRA” ini sebagai KADZIBUN MUKHTALAQ (BOHONG dan DIKARANG-KARANG).
.
.
[20]
Anda kaget? Anda bingung? Anda pusing? Apalagi saya.
Note: Jadi ibu-ibu kaum muslimat, kalau mau menamai puterinya, pilihlah nama ZAHRA, dan jangan HUMAIRA.
Wassalamu’alaikum.
.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s