SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU



Disalin oleh : Kanjeng Pangeran Norman Hadinegoro,SE.MM.

Secara harfiah arti dari “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” adalah sebagai berikut; Serat = ajaran, Sastrajendra = Ilmu mengenai raja. Hayuningrat = Kedamaian. Pangruwating = Memuliakan atau merubah menjadi baik. Diyu = raksasa atau lambang keburukan. Raja disini bukan harfiah raja melainkan sifat yang harus dimiliki seorang manusia mampu menguasai hawa nafsu dan pancainderanya dari kejahatan. Seorang raja harus mampu menolak atau merubah keburukan menjadi kebaikan.Pengertiannya; bahwa Serat Sastrajendra Hayuningrat adalah ajaran kebijaksanaan dan kebajikan yang harus dimiliki manusia untuk merubah keburukan mencapai kemuliaan dunia akhirat. Ilmu Sastrajendra adalah ilmu makrifat yang menekankan sifat amar ma’ruf nahi munkar, sifat memimpin dengan amanah dan mau berkorban demi kepentingan rakyat.

Asal-usul Sastra Jendra dan Filosofinya

Menurut para ahli sejarah, kalimat “Sastra Jendra” tidak pernah terdapat dalam kepustakaan Jawa Kuno. Tetapi baru terdapat pada abad ke 19 atau tepatnya 1820. Naskah dapat ditemukan dalam tulisan karya Kyai Yasadipura dan Kyai Sindusastra dalam lakon Arjuno Sastra atau Lokapala. Kutipan diambil dari kitab Arjuna Wijaya pupuh Sinom berikut cerita lokapala :

Tersebutlah sebuah kerajaan besar bernama Lokapala.

Negara ini adalah tempat bersemayamnya seorang raja

muda bernama Danaraja.

Danaraja atau Danapati terkenal

sangat sakti dan tampan. Rakyat dan bala tentaranya

terdiri dari manusia dan raksasa. Dan semua tentaranya

sangat ahli dalam olah keprajuritan. Lokapala

didirikan oleh Prabu Danurdana yang merupakan

keturunan Dewa Sambu putra Bathara Guru.

Kemudian berturut-turut Lokapala yang damai diperintah oleh

Prabu Andanapati kemudian Prabu Lokawana. Prabu

Lokawana memiliki putri yang cantik jelita bernama

Dewi Lokawati. Lokawati yang cantik itu akhirnya

menikah dengan seorang pemuda brahmana sakti dan

tampan bernama Resi Wisrawa.

Setelah sang Prabu Lokawana mangkat, maka Wisrawa

menjadi raja di Lokapala. Prabu Wisrawa sangat

dicintai rakyatnya karena ia memimpin negara dengan

arif dan bijaksana. Dan dari perkimpoiannya dengan Dewi

Lokawati, mereka dianugrahi seorang putra yang diberi

nama Danaraja.

Tahun dan musim berganti, akhirnya

Danaraja tumbuh dewasa dan akhirnya naik tahta

menggantikan ayahnya yang lebih memilih hidup bertapa

sebagai pendeta. Dan sama seperti ayahnya, Prabu

Danaraja sangat arif dalam memimpin negara dan

rakyatnya. Sampai pada suatu ketika, Prabu Danaraja

mendengar adanya sebuah sayembara memperebutkan

seorang putri yang sangat cantik bernama Dewi Sukesi.

Dewi Sukesi adalah putri dari Prabu Sumali seorang

maharaja raksasa pemimpin negara Alengka. Sudah lama

memang Danaraja mendengar kecantikan sang putri. Ia

ingin sekali memperistri Dewi Sukesi dan

menyandingkannya sebagai permaisuri kerajaan

Lokapala.Maka disampaikanlah keinginan itu kepada

ayahandanya Resi Wisrawa. Danaraja ingin sekali

ayahnya mengutarakan keinginannya dan melamar Dewi

Sukesi untuknya. Wisrawa senang sekali mendengar hal

tersebut. Dan dengan cinta yang tulus dari seorang

ayah, Wisrawa bersedia berangkat ke Alengka untuk

melamar sang putri Sukesi karena menurut Resi Wisrawa,

tidak pantas bagi seorang raja terjun langsung ke

dalam arena sayembara, lagi pula syarat kedua, yaitu

penjabaran ilmu sastrajendra hayuningrat pangruwating

diyu tidak akan mungkin dapat diungkapkan oleh Prabu

Danaraja, sebab menurut Resi Wisrawa hanya dia

sendirilah yang dapat melakukan.

Alengkadiraja adalah kerajaan besar yang dipimpin oleh

raja raksasa bernama Prabu Sumali. Walaupun sang raja

berujud raksasa namun meskipun demikian, hati dan

tindak-anduknya jauh lebih mulia melebihi manusia

lumrah. Prabu Sumali sendiri adalah putra dari raja

Alengka sebelumnya, Prabu Puksura.

Prabu Sumali juga memiliki putra yang berwujud raksasa bernama Prahasta

yang sangat sakti. Negara Alengka merupakan negara

yang sudah berusia cukup tua. Raja-raja sebelumnya

yaitu Prabu Banjaranjali, Prabu Jatimurti, Prabu

Getahbanjaran, Prabu Bramanatama, Prabu Puksura dan

terakhir Prabu Sumali. Rakyat Alengka kebanyakan

adalah para raksasa yang hidup tentram dan damai

dibawah kepemimpinan raja-raja tersebut.

Kini, Prabu Sumali tengah mencari jodoh untuk putrinya

yang tercinta Dewi Sukesi. Dewi Sukesi memberikan

syarat bagi calon suami yang ingin meminangnya harus

ahli dalam hal kesusastraan. Namun diluar persyaratan

itu, Jambumangli sendiri menghendaki adiknya menikah

dengan seorang satria yang mampu mengatasi

keperkasaannya. Dan memang hingga kini tak satupun

para satria dan raja yang datang ke Alengka mampu

mengalahkan kedigdayaan Jambumangli.

Tetapi nampaknya,

Sang Pencipta berkata lain. Resi Wisrawa akhirnya

sampai di istana Alengka dan bertemu dengan Prabu

Sumali. Dua insan yang memang sahabat lama ini saling

berpelukan pada saat mereka bertemu. Namun air muka

sang Prabu Sumali berubah pada saat Wisrawa menyatakan

keinginannya datang ke Alengka. Prabu Sumali

memberitahukan bahwa untuk mendapatkan Dewi Sukesi

kerajaan telah membuat suatu sayembara tanpa memandang

apa dan siapa orangnya yaitu harus dapat. mengalahkan

Ditya Kala Jambu Mangli saudara muda Prabu Sumali dan

harus dapat menjabarkan Ilmu Sastra Jendra Hayuningrat

Pangrumating Diyu.

Wisrawa menyanggupi dan kemudian berhadapanlah dia

dengan Arya Jambumangli. Dari hasil percakapannya

dengan Ditya Kala Jambumangli, Resi Wisrawa

mendapatkan isyarat, bahwa Jambumangli yang pamannya

Dewi Sukesi itu ternyata mempunyai minat sendiri

terhadap kemenakannya. Oleh karenanya, Resi Wisrawa

bertekad tidak hanya akan mengalahkan tetapi harus

memusnahkan Jambumangli.

Perang tanding seru terjadi.

Namun kesaktiaan Jambumangli masih berada dibawah

Wisrawa. Maka setelah beberapa waktu, Jambumangli

mulai kehabisan tenaga dan Resi Wisrawa dengan mudah

menekuk Jambumangli. Namun Jambumangli yang licik

terus memburu Resi Wisrawa. Wisrawa mengeluarkan

kesaktian dahsyatnya dan dibantainya Arya Jambumangli

hingga terpenggal kedua tangan, kaki dan kepalanya.

Sorak sorai para penonton dan ksatria membahana karena

hal ini sudah ditunggu-tunggu sejak lama. Jambumangli

memang satria raksasasa yang sakti namun ia berwatak

angkuh dan sombong. Persyaratan pertama telah dilalui.

Ramayana {bagian 2} – Sastra Jendra Hayuningrat

Pangruwating Diyu

Kini tiba saatnya Resi Wisrawa memulai penjabaran apa

arti ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.

Namun sebelum wejangan berupa penjabaran makna ilmu

sastrajendra hayuningrat pangruwating diyu diajarkan

kepada Dewi Sukesi, Resi Wisrawa memberikan sekilas

tentang ilmu itu kepada Sang Prabu Sumali.

Resi Wisrawa berkata lembut, bahwa seyogyanya tak usah

terburu-buru, kehendak Sang Prabu Sumali pasti

terlaksana. Jika dengan sesungguhnya menghendaki

keutamaan dan ingin mengetahui arti sastra jendra.

Ajaran Ilmu Sastra Jendra itu adalah, barang siapa

yang menyadari dan menaati benar makna yang terkandung

di dalam ajaran itu akan dapat mengenal watak

(nafsu-nafsu) diri pribadi.

Nafsu-nafsu ini selanjutnya dipupuk, dikembangkan dengan

sungguh-sungguh secara jujur, di bawah pimpinan

kesadaran yang baik dan bersifat jujur. Dalam pada itu

yang bersifat buruk jahat dilenyapkan dan yang

bersifat baik diperkembangkan sejauh mungkin.

Kesemuanya di bawah pimpinan kebijaksanaan yang

bersifat luhur.

Terperangah Prabu Sumali tatkala mendengar uraian Resi

Wisrawa. Mendengar penjelasan singkat itu Prabu Sumali

hatinya mmenjadi sangat terpengaruh, tertegun dan

dengan segera mempersilahkan Resi Wisrawa masuk ke

dalam sanggar. Wejangan dilakukan di dalam sanggar

pemujaan, berduaan tanpa ada makhluk lain kecuali Resi

Wisrawa dengan Dewi Sukesi. Karena Sastrajendra adalah

rahasia alam semesta, yang tidak dibolehkan diketahui

sebarang makhluk, seisi dunia baik daratan, angkasa

dan lautan.

Ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu

adalah sebuah ilmu sebagai kunci

orang dapat memahami isi indraloka pusat tubuh manusia

yang berada di dalam rongga dada yaitu pintu gerbang

atau kunci rasa jati, yang dalam hal ini bernilai sama

dengan Tuhan Yang Maha Esa, yang bersifat gaib. Maka

dari itu ilmu Sastra Jendera Hayuningrat Pangruwating

Diyu adalah sebagai sarana pemunah segala bahaya, yang

di dalam hal ilmu sudah tiada lagi. Sebab segalanya

sudah tercakup dalam sastra utama, puncak dari segala

macam ilmu. Raksasa serta segala hewan seisi hutan,

jika tahu artinya sastra jendra. Dewa akan membebaskan

dari segala petaka. Sempurna kematiannya, rohnya akan

berkumpul dengan roh manusia, manusia yang telah

sempurna yang menguasal sastra jendra, apabila ia

mati, rohnya akan berkumpul dengan para dewa yang

mulya.

Sastra Jendra disebut pula Sastra Ceta.

Suatu hal yang mengandung kebenaran, keluhuran, keagungan akan

kesempurnaan penilaian terhadap hal-hal yang belum

nyata bagi manusia biasa. Karena itu Ilmu Sastra

Jendra disebut pula sebagai ilmu atau pengetahuan

tentang rahasia seluruh semesta alam beserta

perkembangannya. Jadi tugasnya, Ilmu Sastra Jendra

Hayuningrat Pangruwating Diyu ialah jalan atau cara

untuk mencapai kesempurnaan hidup.

Untuk mencapai tingkat hidup yang demikian itu,

manusia harus menempuh berbagai persyaratan atau jalan

dalam hal ini berarti sukma dan roh yang manunggal,

antara lain dengan cara-cara seperti:

Mutih :

makan nasi tanpa lauk pauk yang berupa apapun juga.

Sirik : menjauhkan diri dari segala macam keduniawian.

Ngebleng :

menghindari segala makanan atau minuman yang tak bergaram.

Patigeni :

tidak makan atau minum apa-apa sama sekali.

Selanjutnya melakukan samadi, sambil mengurangi makan,

minum, tidur dan lain sebagainya. Pada samadi itulah

pada galibnya orang akan mendapalkan ilham atau wisik.

Ada tujuh tahapan atau tingkat yang harus dilakukan

apabila ingin mencapai tataran hidup yang sempurna,

yaitu :

Tapaning jasad, yang berarti

mengendalikan/menghentikan daya gerak tubuh atau

kegiatannya. Janganlah hendaknya merasa sakit hati

atau menaruh balas dendam, apalagi terkena sebagai

sasaran karena perbuatan orang lain, atau akibat suatu

peristiwa yang menyangkut pada dirinya.

Sedapat-dapatnya hal tersebut diterima saja dengan

kesungguhan hati.

Tapaning budi, yang berarti

mengelakkan/mengingkari perbuatan yang terhina dan

segala hal yang bersifat tidak jujur.

Tapaning hawa nafsu, yang berarti

mengendalikan/melontarkan jauh-jauh hawa nafsu atau

sifat angkara murka dari diri pribadi. Hendaknya

selalu bersikap sabar dan suci, murah hati,

berperasaan dalam, suka memberi maaf kepada siapa pun,

juga taat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Memperhatikan

perasaan secara sungguh-sungguh, dan berusaha sekuat

tenaga kearah ketenangan (heneng), yang berarti tidak

dapat diombang-ambingkan oleh siapa atau apapun juga,

serta kewaspadaan (hening).

Tapaning sukma, yang berarti

memenangkan jiwanya.

Hendaknya kedermawanannya diperluas. Pemberian sesuatu

kepada siapapun juga harus berdasarkan keikhlasan

hati, seakan-akan sebagai persembahan sedemikian,

sehingga tidak mengakibatkan sesuatu kerugian yang

berupa apapun juga pada pihak yang manapun juga.

Pendek kata tanpa menyinggung perasaan.

Tapaning cahya, yang berarti

hendaknya orang selalu awas dan waspada serta mempunyai daya meramalkansesuatu secara tepat. Jangan sampai kabur atau mabuk

karena keadaan cemerlang yang dapat mengakibatkan

penglihatan yang serba samar dan saru. Lagi pula

kegiatannya hendaknya selalu ditujukan kepada

kebahagiaan dan keselamatan umum.

Tapaning gesang, yang berarti

berusaha berjuang sekuat tenaga secara berhati-hati,

kearah kesempurnaari hidup, serta taat kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Mengingat jalan atau cara itu berkedudukan pada

tingkat hidup tertinggi, maka ilmu Sastra Jendra

Hayuningrat Pangruwating Diyu itu dinamakan pula

“Benih seluruh semesta alam.”

Jadi semakin jelas bahwa Sastra Jendra Hayuningrat

Pangruwating Diyu hanya sebagai kunci untuk dapat

memahami isi Rasa Jati, dimana untuk mencapai sesuatu

yang luhur diperlukan mutlak perbuatan yang sesuai.

Rasajati memperlambangkan jiwa atau badan halus

ataupun nafsu sifat tiap manusia, yaitu keinginan,

kecenderungan, dorongan hati yang kuat, kearah yang

baik maupun yang buruk atau jahat. Nafsu sifat itu

ialah; Luamah (angkara murka), Amarah, Supiyah (nafsu

birahi). Ketiga sifat tersebut melambangkan hal-hal

yang menyebabkan tidak teraturnya atau kacau balaunya

sesuatu masyarakat dalam berbagai bidang, antara lain:

kesengsaraan, malapetaka, kemiskinan dan lain

sebagainya.

Sedangkan sifat terakhir yaitu Mutmainah

(nafsu yang baik, dalam arti kata berbaik hati,

berbaik bahasa, jujur dan lain sebagainya) yang selalu

menghalang-halangi tindakan yang tidak senonoh.

Saat wejangan tersebut dimulai, para dewata di

kahyangan marah terhadap Resi Wisrawa yang berani

mengungkapkan ilmu rahasia alam semesta yang merupakan

ilmu monopoli para dewa.

Para Dewa sangat berkepentingan untuk tidak membeberkan ilmu itu ke

manusia. Karena apabila hal itu terjadi, apalagi jika

pada akhirnya manusia melaksanakannya, maka

sempurnalah kehidupan manusia. Semua umat di dunia

akan menjadi makhluk sempurna di mata

Penciptanya.Dewata tidak dapat membiarkan hal itu

terjadi. Maka digoncangkan seluruh penjuru bumi. Bumi

terasa mendidih. Alam terguncang-guncang. Prahara

besar melanda seisi alam. Apapun mereka lakukan agar

ilmu kesempurnaan itu tidak dapat di jalankan.

Semakin lama ajaran itu semakin meresap di tubuh

Sukesi. Untuk tidak terungkap di alam manusia, maka

Bhatara Guru langsung turun tangan dan berusaha agar

hasil dari ilmu tersebut tetap menjadi rahasia para

dewa. Karenanya ilmu tersebut harus tetap tetap patuh

berada di dalam rahasia dewa. Oleh niat tersebut maka

Bhatara Guru turun ke bumi masuk ke dalam badan Dewi

Sukesi.

Dibuatnya Dewi Sukesi tergoda dengan Resi

Wisrawa. Dalam waktu cepat Dewi Sukesi mulai tergoda

untuk mendekati Wisrawa. Namun Wisrawa yang terus

menguraiakn ilmu itu tetap tidak berhenti. Bahkan

kekuatan dari uraian itu menyebabkan Sang Bathara Guru

terpental keluar dari raga Wisrawa.

Tetapi Bathara Guru tidak menyerah begitu saja. Dipanggilnya

permaisurinya yaitu Dewi Uma turun ke dunia. Bhatara

Guru masuk menyatu raga dalam tubuh Resi Wisrawa

sedang Dewi Uma masuk ke dalam tubuh Dewi Sukesi.

Tepat pada waktu ilmu itu hendak selesai diwejangkan

oleh Resi Wisrawa kepada Dewi Sukesi, datanglah suatu

percobaan atau ujian hidup. Sang Bhatara Guru yang

menyelundup ke dalam tubuh Bagawan Wisrawa dan Bhatari

Uma yang ada di dalam tubuh Dewi Sukesi memulai

gangguannya terhadap keduanya.

Godaan yang demikian dahsyat datang menghampiri kedua insan itu.

Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi yang menerima pengejawantahan

Bhatara Guru dan Dewi Uma secara berturut-turut

terserang api asmara dan keduanya dirangsang oleh

nafsu birahi. Dan rangsangan itu semakin lama semakin

tinggi. Tembuslah tembok pertahanan Wisrawa dan

Sukesi. Dan terjadilah hubungan yang nantinya akan

membuahkan kandungan. Begawan Wisrawa lupa, bahwa ia

pada hakekatnya hanya berfungsi sebagai wakil anaknya

belaka. Dan akibat dari godaan tersebut, sebelum

wejangan Sastra Jendra selesai, setelah hubungan

antara Resi Wisrawa dengan Dewi Sukesi terjadi,

kenyataan mengatakan mereka sudah merupakan

suami-istri.

Seusai gangguan itu Bathara Guru dan Dewi Uma segera

meninggalkan dua manusia yang telah langsung menjadi

suami istri. Sadar akan segala perbuatannya, mereka

berdua menangis menyesali yang telah terjadi. Namun

segalanya telah terjadi. Sastra Jendra Hayuningrat

Pangruwating Diyu gagal diselesaikan. Dan hasil dari

segala uraian yang gagal diselesaikan itu adalah

seboah noda, aib dan cela yang akan menjadi malapetaka

besar dikemudian hari.

Tetapi apapun hasilnya harus dilalui. Resi Wisrawa dan

Dewi Sukesi membeberkan semuanya apa adanya kepada

sang ayah Prabu Sumali. Dengan arif Prabu Sumali

menerima kenyataan yang sudah terjadi. Dan Resi

Wisrawa dan Dewi Sukesi resmi sebagai suami istri, dan

seluruh sayembara ditutup.

Ajaran sastra Jendra  Tapaning cahya,

 yang berarti

hendaknya orang selalu awas dan waspada serta mempunyai daya meramalkansesuatu secara tepat. Jangan sampai kabur atau mabuk
karena keadaan cemerlang yang dapat mengakibatkan
penglihatan yang serba samar dan saru. Lagi pula
kegiatannya hendaknya selalu ditujukan kepada
kebahagiaan dan keselamatan umum.

MOGA BERMANFAAT

SALAM RAHAYU

One thought on “SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s