MAKNA IBADAH HAJI SECARA HAKIKAT


ASSALAMU ALAIKUM WR.WB

KIRIMAN ARTIKEL DARI BANG WIMPI ISMAJO AL PALEMBANI

PITUTUR GURU SEJATI .SATU..

Perjalanan Syeh Malaya yang berkehendak naik haji menuju Mekah, dia menempuh jalan pintas. Syekh Malaya menerobos hutan, naik gunung, turun jurang, tetebingan di dakinya memutar, melintasi jurang dan tanjakan. Tanpa terasa perjalanannya telah sampai di tepi pantai.

Hatinya bingung, kesulitan menempuh jalan selanjutnya karena terhalang oleh samudera luas, sejauh memandang tampak air semata. Dia diam tercenung lama sekali di tepi samudera memutar otak mencari jalan yang sebaiknya ditempuh. mengetahui kedatangan seorang yang tengah bingung yaitu Syekh Malaya. Sang Mahyuningrat tahu segala perjalanan yang dialami oleh Syekh Malaya dengan sejuta keprihatinan karena ingin meraih iman hidayah.

Berbagai cara telah ditempuh, juga melalui penghayatan kejiwaan dan berusaha mengungkap berbagai rahasia yang tersembunyi, namun mustahil dapat menemukan hidayah, kecuali kalau mendapatkan anugerah Alloh yang haq. Syekh Malaya ternyata sudah terjun merenangi samudra luas, dan tidak mempedulikan nasib jiwanya sendiri. Semakin lama Syekh Malaya sudah hampir sampai tengah samudra, mengikuti jalan untuk mencapai hakikat yang tertinggi dari Alloh, tidak sampai lama, sampailah di tengah samudra.

Beliau kehabisan tenaga untuk mengarungi samudra menuju Mekah. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada ia berusaha mempertahankan diri jangan sampai tenggelam di dasar laut. Yang tampak kini. Syekh Malaya timbul-tenggelam di permukaan laut berjuang menyelamatkan nyawanya. Ternyata disaat Syekh Malaya dalam keadaan yang kritis itu berjuang antara hidup dan mati, tiba-tiba penglihatannya melihat seseorang yang sedang berjalan di atas air dengan tenangnya, yang tidak dari mana datangnya.

Seketika itu pula, tahu-tahu Syekh Malaya sudah dapat duduk tenang diatas air.Orang yang mendekati Syekh Malaya tidak lain adalah Nabi Khidir yang menyapa Syekh Malaya dengan lemah lembut, “Syekh Malaya apakah tujuanmu mendatangi tempat ini..? Apakah yang kau harapkan..? Ketahuilah di sini tidak ada apa-apa.! Tidak ada yang dapat dibuktikan, apalagi untuk dimakan dan berpakaian pun tidak ada.

Yang ada hanyalah daun kering yang tertiup yang jatuh di depanku, itu yang saya makan, kalau tidak ada tentu tidak makan. Senangkah kamu melihat kenyataan semua itu?”. Sunan Kalijaga heran mengetahui penjelasan ini. Nabi Khidir berkata lagi kepada Sunan Kalijaga, “Cucuku, di sini ini banyak bahayanya, kalau tidak mati-matian berani bertaruh nyawa, tentu tidak mungkin sampai di sini.

Di tempat ini segalanya tidak ada yang dapat diharapkan hasilnya. Mengandalkan pikiranmu saja belum apa-apa, biarpun kamu tidak takut mati. Kutegaskan sekali lagi, di sini kau tidak mungkin mendapat apa yang kau maksudkan!”. Syekh Malaya bingung tidak tahu apa yang harus diperbuat, dia menjawab pertanyaan Nabi Khidir, bahwa dia tidak mengetahui akan langkah yang sebaiknya perlu ditempuh setelah ini.

Tidak tahu apa yang akan dilakukannya kemudian..! “Syekh Malaya pasrah diri kepada Nabi Khidir , katanya “Terserah bagaimana baiknya menurut Guru”. Sang guru Nabi Khidir menebak, “Apakah kamu juga sangat mengharapkan hidayatullah Allah?”. Akhirnya Kanjeng Nabi Khidir menjelaskan, “ikutilah petunjukku sekarang ini!” “Kamu telah berusaha menjalankan petunjuk gurumu Sunan Bonang yang menyuruhmu menuju kota Mekah, dengan keperluan naik haji.

Maka ketahuilah olehmu, makna tugas itu yaitu : sungguh sulit menjalankan lika-liku kehidupan ini”. “Jangan pergi kalau belum tahu yang kau tuju dan jangan makan kalau belum tahu rasanya yang dimakan, jangan berpakaian kalau belum tahu kegunaan berpakaian. Lebih jelasnya tanyalah sesama manusia sekaligus dengan persamaannya, kalau sudah jelas amalkanlah!”. “Demikianlah seharusnya hidup itu, ibarat ada orang dari gunung, akan membeli emas, oleh tukang emas biarpun diberi kuningan tetap dianggap emas mulia.

Demikianlah pula dengan orang berbakti, bila belum yakin benar, pada siapakah yang harus disembah..?” Syekh Malaya ketika mendengar itu, spontan duduk berlutut mohon belas kasihan, setelah mendapati kenyataan Nabi Khidir betul-betul serba tahu yang tersimpan di hatinya. Dengan duduk bersila dia berkata, “Yang kami dengar akan kami laksanakan apa pun jadinya nanti. “Syekh Malaya meminta kasih sayang, memohon keterangan yang jelas’, siapakah nama tuan..? Mengapa di sini sendirian..? Sang Pajuningrat menjawab, “sesungguhnya saya ini Nabi Khidir”.

Syekh Malaya berkata, “saya menghaturkan hormat sedalam-dalamnya kepada tuan junjunganku dan mohon petunjuk serta perlu dikasihani, saya juga tidak tahu benar tidaknya pengabdianku ini. Tidak lebih bedanya dengan hewan di hutan, itupun masih tidak seberapa, bila mau menyelidiki kesucian diriku ini. Dapat dikatakan lebih bodoh dan dungu serta tercela ibarat keris tanpa kerangka dan ibarat bacaan tanpa isi tersirat”. Maka berkata dengan manisnya Sang Nabi Khidir kepada Sunan Kalijaga…

“Jika kamu berkehendak naik haji ke Mekah, kamu harus tahu tujuan yang sebenarnya menuju ke Mekah itu. Ketahuilah mekah itu hanya tapak tilas saja! Yaitu bekas tempat tinggal Nabi Ibrahim zaman dahulu. Beliulah yang membangun Ka’bah Masjidil Haram serta yang menghiasi Ka’bah itu dengan benda yang berupa batu hitam (Hajar Aswad) yang tergantung di dinding Ka’bah tanpa digantungkan. Apakah Ka’bah itu yang hendak kamu sembah..? Kalau itu yang menjadi niatmu, berarti kamu sama halnya menyembah berhala atau bangunan yang dibuat dari batu.

Perbuatanmu itu tidak jauh berbeda dengan yang diperbuat oleh orang kafir, karena hanya sekedar menduga-duga saja wujud Alloh yang disembah, dengan senantiasa menghadap kepada berhalanya. Oleh karenanya itu, biarpun kamu sudah naik haji, bila belum tahu tujuanya yang sebenarnya dari ibadah haji tentu kamu akan rugi besar. Maka dari itu, ketahuilah bahwa Ka’bah yang sedang kau tuju itu, bukannya yang terbuat dari tanah atau kayu apalagi batu, tetapi Ka’bah yang hendak kau kunjungi itu sebenarnya Ka’bahtullah (Ka’bah Alloh). Demikian itu sesunggunya iman hidayah yang harus kamu yakinkan dalam hati”.

Nabi Khidir memerintah, “Syekh Malaya segeralah kemari secepatnya.! Masuk ke dalam tubuhku!” Syekh Malaya terhenyak hatinya tak dapat dicegah lagi, keluarlah tawanya, bahkan sampai mengeluarkan air mata seraya berkata halu. “Melalui jalan manakah harus masuk ke dalam tubuhmu, padahal saya tinggi besar melebihi tubuhmu, kira-kira cukupkah..? Melalui jalan manakah usaha saya untuk masuk..? Padahal nampak olehku buntu semua..?.

Nabi Khidir berkata dengan lemah lembut. “Besarmana kamu dengan bumi, semua ini beserta isinya, hutan rimba dan samudera serta gunung tidak bakal penuh bila dimasukkan kedalam tubuhku, jangan khawatir bila tak cukup masuklah di dalam tubuhku ini. Syekh Malaya setelah mendengarnya semakin takut sekali dan bersedia melaksanakan tugas memasuki badan Nabi Khidir, namun bingung tak tahu cara melaksanakannya. Menolehlah Nabi Khidir, ini jalan di telingaku ini”.Syekh Malaya masuk dengan segera melalui telinga Nabi Khidir.

Sesampainya di dalam tubuh Nabi Khidir, Syekh Malaya melihat samudera luas tiada bertepi sejauh mata memandang, semakin diamati semakin jauh tampaknya. Nabi Khidir bertanya keras-keras, “hai apa yang kamu lihat..?”
Syekh Malaya segera menjawab, “Angkasa Raya yang kuamati, kosong melompong jauh tidak kelihatan apa-apa, kemana kakiku melangkah, tidak tahu arah utara selatan barat timur pun tidak kami kenal lagi, bawah dan atas serta muka belakang, tidak mampu saya bedakan. Bahkan semakin membuat aku bingung”.

Nabi Khidir berkata lemah-lembut, “usahakan jangan sampai bingung hatimu”. Tiba-tiba Syekh Malaya melihat suasana terang benderang. Dihadapannya nampak Nabi Khidir, Syekh Malaya melihat Nabi Khidir malayang di udara kelihatan memancarkan cahaya gemerlapan. Saat itu Syekh Malaya melihat arah utara selatan, barat dan timur sudah kelihatan jelas, atas serta bawah juga sudah terlihat dan mampu menjaringf matahari, tenang rasanya sebab melihat Nabi Khidir, rasanya berada di alam yang lain dari yang lain.

Nabi Khidir berkata lembut, “jangan berjalan hanya sekedar berjalan, lihatlah dengan sungguh-sungguh apa yang terlihat olehmu”. Syekh Malaya menjawab, “Ada warna empat macam yang nampak padaku semua itu sudah tidak kelihatan lagi, hanya empat macam yang kuingat yaitu hitam merah kuning dan putih”. Berkata Nabi Khidir, “yang pertama kau lihat cahaya mencorong tapi tidak tahu namanya ketahuilah itu adalah pancamaya, yang sebenarnya ada di dalam dirimu sendiri yang mengatur dirimu.

Pancamaya yang indah itu disebut mukasyafah, bila mana kamu mampu membimbing dirimu ke dalam sifat terpuji, yaitu sifat yang asli. Maka dari itu jangan asal bertindak, selidikilah semua bentuk jangan sampai tertipu nafsu. Usahakan semaksimal mungkin agar hatimu menduduki sifat asli, perhatikan terus hatimu itu, supaya tetap dalam jati diri!” Tentramlah hati Syekh Malaya, setelah mengerti itu semua dan baru mantap rasa hatinya serta gembira. Nabi Khidir melanjutkan penjelasannya, “adapun yang kuning, merah, hitam serta putih itu adalah penghalanya.

Sebab isinya dunia ini sudah lengkap, yaitu terbagi kedalam tiga golongan, semuanya adalah penghalang tingkah laku, kalau mampu menjauhi itu pasti dapat berkumpul dengan ghaib, itu yang menghalangi meningkatkan citra diri. Hati yang tiga macam yaitu hitam, merah dan kuning, semua itu menghalangi pikiran dan kehendak tiada putus-putusnya. Maksudnya akan menghalangi menyatunya hamba dengan Tuhan yang membuat nyawa lagi mulia.

Jika tidak tercampur oleh tiga hal itu, tentu terjadi hilangnya jiwa, maksudnya orang akan mencapai tingkatan Maqom Fana dan akan masuk Maqom Baqo atau abadi. Maksudnya senantiasa berdekatan rapat dengan Sang Pencipta. Namun yang perlu diperhatikan dan diingat dengan seksama, bahwa penghalang yang ada dalam dihati, mempunyai kelebihan yang perlu kamu ketahui dan sekaligus sumber inti kekuatannya.

Yang hitam lebih perkasa, pekerjaanya marah, mudah sakit hati, angkara murka secara membabi buta. Itulah hati yang menghalangi, menutup kepada kebajikan. Sedangkan yang berwarna merah, ikut menunjukkan nafsu yang tidak baik, segala keinginan nafsu keluar dari si merah, mudah emosi dalam mencapai tujuan, hingga menutup kepada hati yang sudah jernih tenang menuju akhir hidup yang baik (khusnul khatimah).

Adapun yang berwarna kuning, kemampuannya mengahalangi segala hal, pikiran yang baik maupun pekerjaan yang baik. Hati kuninglah yang menghalangi timbulnya pikiran yang baik hanya membuat kerusakan, menelantarkan ke jurang kehancuran. Sedangkan yang putih itulah yang sebenarnya, membuat hati tenang serta suci tanpa ini itu, pahlawan dalam kedamaian” Nabi Khidir memberi kesempatan bagi Syekh Malaya untuk merenungkan penjelasannya tadi.

Selanjutnya beliu berkata, “hanya itulah yang dapat dirasakan manusia akan kesaksiannya. Sesungguhnya yang terwujud adanya, hanya menerima anugrah semata-mata dan hanya itulah yang dapat dilaksanakan. Kalau kamu tetap berusaha agar abadi berkumpulnya diri dekat Tuhan, maka senantiasa-lah menghadapi tiga musuh yang sangat kejam, besar dan tinggi hati. Ketiga musuhmu saling kerjasama, padahal si putih tanpa teman, hanya sendirian saja, makanya sering dapat dikalahkan.

Kalau sekiranya dapat mengatasi akan segala kesukaran yang timbul dari tiga hala itu, maka terjadilah persatuan erat wujud, tanpa berpedoman itu semua tidak akan terjadi persatuan erat antara manusia dan Penciptanya”. Syekh Malaya sudah memahaminya, dengan semangat mulai berusaha disertai tekad membaja demi mendapatkan pedoman akhir kehidupan, demi kesempurnaan dekatnya dengan Alloh SWT.

MOGA BERMANFAAT

WASSALAMUALAIKUM

About these ads

9 thoughts on “MAKNA IBADAH HAJI SECARA HAKIKAT

  1. randi mengatakan:

    Insya Allah bisa diambil hikmahnya,
    terima kasih kpd penulis dan pemilik blog Cahmet.
    Salam..

  2. agateszjovi mengatakan:

    Kisah Klasik yg menyenangkan.
    Sejuk rasanya membaca Artikel di atas. ^^

  3. hamba mengatakan:

    laa qaulaawalaa kuwata illaa billahil aliyil adzim

  4. mahnep mengatakan:

    kita memeng harus kenal setiap yg kita hadapi semoga bisa kita amalkan

  5. Geninja mengatakan:

    intisarinya sama dengan serat dewaruci…

  6. Cucu Brawijaya V mengatakan:

    Haji atau Hajj artinya tujuan akhir. Tujuan Akhir Manusia adalah kembali kepada Yang Esa. Nah, di Ibadah Haji ada kias/makna tersirat dari Yang Maha Esa tadi. Yang mempunyai sifat tidak berawal, tidak berakhir, tidak tua, tidak muda, tidak berwarna, tidak membutuhkan segala sesuatu, bukan ini, bukan itu, disana dan disini sama adanya. Makanya umat Islam diperintahkan untuk mencari yang tersembunyi itu. Bukan di Mekahnya atau di Batu hitamnya(menurut Nabi Khidir dari cerita diatas). Agar sampai kembali pada tujuan TUJUAN AKHIR…

  7. Ki Cantrik mengatakan:

    sebuah kisah yang penuh dg suri tauladan yg patut kita contohi…sebuah lautan hikmah yg penuh makna seperti mana syeh malaya mengarunginya…..
    Mantap artikelnya Bang…

  8. Khanafi mengatakan:

    Subahan allah

  9. MOHAMMAD MIFTAH mengatakan:

    SUBHANALLAH SURI TAULADAN WAJIB DI LAKSANAKAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s