AJARAN SYI’AH


MENGUPAS SEDIKIT AJARAN SYI’AH

SYI’AH adalah ajaran yang di bawa oleh ahlu bait yang diajarkan langsung oleh Rosululloh saw kepada imam awal yaitu sayyidiina ali bin abi tholib alaihissalam,mengapa dikasih julukan alaihissalam bukan rodliyallohu anhu atau karomallohu wajhah,karena waktu beliau lahir sayyidina ali langsung di bawa oleh Rosululloh ke dalam ka’bah lalu ibu jari Rosululloh di sedot oleh imam Ali kecil,karena maksud jari di sedot adalah hikmah dan nilai keutamaan Ali sebagai seorang Imam di muka bumi ini,dan Rosululloh pun berkata pada Imam Ali”wahai Ali derajatmu sama kedudukannya denganKu begitu pula sejajar dengan nabi Harun,Musa dan Ibrohim alaihissalam,karena Engkau adalah salah satu orang dari golongan yang maksum,yaitu sebagai kholifah yang ada dimuka bumi ini.dan sesuai ajaran Syiah ahlu bait itu jumlahnya 14 orang termasuk Rosululloh saw,siti fatimah binti zahroh dan 12 imam maksum dan mereka ada karena kehendak Alloh jadi bukan pilihan manusia atau pilihan lewat demokrasi baik lewat voting atau aklamasi,mereka ada karena adanya keutamaan dari kehendak Alloh,peran dan tanggung jawab para ahlu bait adalah sebagai pewaris nabi atau ahli yang benar benar mengutamakan ajaran yang dibawa oleh Rosululloh tanpa bid’ah,dari cara sholat,waktu sholat,dan penafsiran alqur’an dan
hadist harus sesuai apa yang diajarkan Rosululloh jadi tugas 12 imam adalah menjaga keutamaan ajaran Rosululloh saw,sekaligus membawa umat Rosululloh menjadi umat selamat di dunia dan akherat,

sedang Sunni adalah suatu ajaran yang terkandung dalam ajaran dari Rosululloh yang diriwayatkan dari para sahabat kecuali imam Ali yaitu:abu bakar,Umar dan usman
dari ke 3 sahabat ini maka timbul pemahaman hadist yang diriwayatkan oleh 4 mazab
yang sekarang dipakai sebagai tolak ukur untuk pemahaman bagi organisasi yang ada di
Indonesia seperti Nahdatul Ulama,Muhammadiyah,Persis,LDII,darul hadist,jamaah tabliq,dll tasawuf juga masuk kedalam golongan sunni yang masih memakai system 4 mazab

menurut ajaran Syiah bahwa Rosululloh ketika sholat beliau tidak bersendekap yaitu ke dua tangan di tempelkan di dada namun ditaruh di kedua paha,namun oleh sahabat umar bin khotob di ubah keadaannya yaitu bersendekap,menurut beliau yaitu sahabat Umar bin Khotob karena kebiasaan beliau sahabat umar ini klo menghadap seorang Raja tangan beliau selalu bersendekap,jadi gaya bersendekap ini yang dipakai sahabat Umar dalam mengerjakan sholat,dan sampai sekarang gaya bersendekap ini dikerjakan oleh seluruh umat muslim di dunia,

dan menurut syiah penganut ahlu bait sholat jum’at hukumnya adalah fardlu kifayah
yang artinya sholat fardlu dhuhur lebih utama daripada sholat jum’at,karena sholat fardlu 5 waktu tidak boleh digantikan dengan apapun
boleh mengerjakan sholat jum’at tapi selanjutnya harus mengerjakan sholat dzuhur,karena menurut ajaran syiah sholat 5 waktu adalah kewajiban umat islam yang tidak bisa ditinggalkan

Ahlu bait mengajarkan ajaran Rosululloh dengan sedetailnya berdasarkan apa yang disampaikan oleh Rosululloh semasa hidupnya,menurut Riwayat setelah pelaksanaan haji wada’,Rosululloh mengangkat Imam Ali alaihisalam sebagai kholifah pengganti Rosululloh dan disaksikan ribuan kaum muslimin yang pada waktu itu mengerjakan haji,dan sangat disayangkan setelah sepeninggalnya Rosululloh banyak yang tidak mengakui ke absahan Imam Ali sebagai pemimpin umat Islam yang telah di angkat Rosululloh saw, kebanyakan pada waktu itu pengikut abu bakar dan umar lebih banyak ketimbang pengikut imam Ali dan mereka cenderung memilih kepemimpinan abu bakar atau umar sebagai kholifah pengganti Rosululloh,nah dari situ mulai terjadi pergolakan antara kaum muslimin dari kubu abu bakar,umar melawan pengikut imam Ali,karena demi Agama dan ukhuwah maka imam Ali hijrah ke Baghdad untuk melakukan syiar di sana,dan pasca hijrahnya imam ali ke Baghdad maka akhirnya kemimpinan berada di tangan abu bakar pada saat itu sebagai kholifah,di Baghdad ajaran islam yang di bawa imam Ali sampai menyebar ke iran,istambul,Syria,damaskus,Lebanon dan juga sampai ke indonesia melalui samudra pasai,maluku utara,dan banten,klo siti fatimah binti maimun yang dmakamkan di Aceh juga termasuk golongan syiah,sepeninggalnya imam Ali ajaran syiah yaitu ahli bait dilanjutkan oleh imam Hasan dan Husain alihissalam sampai terjadi peristiwa tragedi di padang karbala dimana kesyahidan cucu Rosululloh sebagai imam maksum dipertaruhkan untuk membela kebenaran ajaran islam di muka bumi ini,banyak ahlu bait yang hijrah sebagian ke afrika dan yang terbanyak adalah ke Indonesia yang kebanyakan menetap di pasai untuk menghindari serangan pasukan yazid dari dinasti Muawiyyah yang pada waktu itu berupaya untuk menghabisi seluruh keturunan ahlu bait Rosululloh saw dan para pengikutnya,karena pada dinasti muawiyyah ajaran islam yang murni dari Rosululloh telah banyak dirombak disesuaikan dengan ajaran islam yang diriwayatkan dari sahabat abu bakar,umar dan usman selain itu dinasti muawiyyah juga membenci ke hadiran ahlu bait sebagai kholifah dengan alasan bahwa ajaran ahlu bait itu bid’ah,namun Alloh sudah mengangkat 12 imam sebagai penggantinya yang terakhir nanti adalah Imam mahdi alaihissalam yang akan meluruskan ajaran islam sesuai ajaran Rosululloh bagi mereka yang mengimami Imam mahdi sebagai imam maka kehidupan dunia dan akheratnya janji Alloh kepada umat manusia pasti akan selamat,dan imam mahdi juga akan memerangi siapa saja yang tidak patuh kepadanya,dan golongan yang di perangi nanti termasuk golongan jahiliyah baik muslim yang tidak sesuai ajaran dari ahli bait atau juga golongan yang diluar muslim,tak tanggung tanggung tentara yang di bawa imam mahdi nanti terdiri dari golongan malaikat,jin dan manusia dari golongan syiah yaitu golongan ahlu bait imamiyah pengikut murni ajaran Rosululloh

Sedang syiah sendiri terbagi menjadi 2 bagian
Yaitu syiah akbari dan syiah hadhori
Syiah akbari itu mempelajari bathiniyah dan syariah tapi cenderung ke bathiniyah
Sedang syiah hadhori itu cenderung syariahnya saja seperti yang ada di Negara Iran
Negara para mullah

Demikian sekelumit ringkasan pengetahuan tentang Ajaran syiah yang sekarang menjadi kontroversi berita di masyarakat,mudah mudahan dapat menjadi bahan renungan dan pengetahuan yang berguna sebagai jalur pilihan atau pandangan untuk kehidupan yang lebih baik lagi baik di dunia dan akherat,bagi anda yang tersinggung dalam kaitan wacana diatas mohon sang penulis ini dimaafkan karena itu semua saya kembalikan ke jalur pemikiran anda masing masing

Wassalam

MBAH ARIFYANTO

About these ads

28 thoughts on “AJARAN SYI’AH

  1. Belma mengatakan:

    pertamaxxxx
    Syi”ah Ghulat ( radikal ) mereka mengkafirkan sayyidina abu bakar,umar,usman.dan para sahabat yang sepaham dengan mereka.menurut hemat saya mereka sudah keluar dari ahlu sunnah wal jama’ah.
    alQur’an mereka berbeda dengan alqur’an ahlu sunnah wal jama’ah.satu-satunya do’a kanjeng rosul yang tidak dikabulkan oleh Allah adalah biar umatnya tidak terpecah seperti yahudi (74 golongan) nasrani ( 75 golongan ) sekarang saya baru tahu makna mengapa do’a kanjeng rosul gak dikabul Allah.saya cinta sama ahlul Bayt tapi tidak mau masuk Syi’ah.Syi’ah imamiah menungggu imam mahdi.mereka berselisih ada yang bilang keturunan ke 4 ada yang ke 5 ada yang ke 6 dari kanjeng rosul yang menjadi imiam mahdi saat ini menghilang akan keluar di akhir zaman ( seperti nabi isa ) di indonesia sama seperti syi’ah imamiah : ratu adil ( satrio piningit )
    Syi’ah juga terpecah menjadi 7-8 ranting. saya cinta ahlul Bayt tapi gak mau masuk syi’ah. urusan dosa atau tidak neraka atau surga urusan mereka dengan Allah…..
    mbah Arif jangan sepotong-sepotong memahaminya lebih baik wara’ ( berhati-hati ) dari pada salah banyak yang ngikuti.berabe ntar urusan diakhiratnya. ( barang siapa berbuat baik sekecil apapun akan dapat balasannya barang siapa berbuat kejahatan ( kesalahan ) sekecil apapun akan dapat balasannya..

  2. Belma mengatakan:

    pertamaxxxx
    Syi”ah Ghulat ( radikal ) mereka mengkafirkan sayyidina abu bakar,umar,usman.dan para sahabat yang tidak sepaham dengan mereka.menurut hemat saya mereka sudah keluar dari ahlu sunnah wal jama’ah.
    alQur’an mereka berbeda dengan alqur’an ahlu sunnah wal jama’ah.satu-satunya do’a kanjeng rosul yang tidak dikabulkan oleh Allah adalah biar umatnya tidak terpecah seperti yahudi (74 golongan) nasrani ( 75 golongan ) sekarang saya baru tahu makna mengapa do’a kanjeng rosul gak dikabul Allah.saya cinta sama ahlul Bayt tapi tidak mau masuk Syi’ah.Syi’ah imamiah menungggu imam mahdi.mereka berselisih ada yang bilang keturunan ke 4 ada yang ke 5 ada
    yang ke 6 dari kanjeng rosul yang menjadi imiam mahdi saat ini menghilang akan keluar di akhir zaman ( seperti nabi isa ) di indonesia sama seperti syi’ah imamiah : ratu adil ( satrio piningit )
    Syi’ah juga terpecah menjadi 7-8 ranting. saya cinta ahlul Bayt tapi gak mau masuk syi’ah. urusan dosa atau tidak neraka atau surga urusan mereka dengan Allah…..
    mbah Arif jangan sepotong-sepotong memahaminya lebih baik wara’ ( berhati-hati ) dari pada salah banyak yang ngikuti.berabe ntar urusan diakhiratnya. ( barang siapa berbuat baik sekecil apapun akan dapat balasannya barang siapa berbuat kejahatan ( kesalahan ) sekecil apapun akan dapat balasannya..

  3. MBAH ARIFYANTO mengatakan:

    di sini saya hanya mengembangkan wawasan saja jadi saya bukan aktor penganut syiah,jadi sebelumnya yang saya minta adalah pendapat tentang syiah bukan saya sebagai aktor di balik penulisan artikel diatas,saya hanya mengajak saudara cahmet untuk mengeluarkan pendapat tentang cara pandang kelompok syi’ah……oke monggo pendapatnya masing masing?????
    dan artikel diatas saya cari di berbagai sumber baik secara lisan atau tulisan

  4. al kautsar mengatakan:

    menurut gue nikh…….soal syi’ah memang harus di bahas karena klompok mereka minoritas tapi klo dipelajari secara menyeluruh ajaran mereka ada benarnya juga,saya juga mempelajari klompok syi’ah selama 5 tahun,tasawuf 7 tahun,entah apa yang saya dapatkan dari ke2 nya adalah sebagai referensi saya pribadi,namun apa dikata pertumbuhan penganut syi’ah sangat pesat di indonesia,karena dalam ajaran syi’ah terkandung ajaran yang murni dari nabi muhammad selaku pemimpin umat Islam lewat sayyidina Ali sebagai imam awal untuk menyerap semua ajaran nabi Muhammad tanpa kecuali,pada aspek sejarahnya ternyata sang imam awal ini mengerjakan ibadah sesuai apa yang dilakukan nabi muhammad saw,tanpa ditambahin atau dikurangin,mulai gerak sholat dengan tangan diletakkan ke2 paha
    sampai penghitungan zakat penghasilan,sahabat abu bakar dalam pelaksanaan sholat juga masih meletakkan ke2 tangan pada paha bukan dengan cara bersendekap,nah pada pemerintahan sahabat umar RA maka cara sholat diubah dari cara nabi meletakkan tangan ke kedua paha menjadi bersendekap didada,karena menurut sahabat umar menyembah kepada Alloh harus disamakan dengan menghadap raja yaitu dengan cara sholat bersendekap,

    kemudian sholat jum’at:
    sholat jum’at itu di anjurkan namun hukumnya masih tingkat fardlu kifayah yaitu kewajiban yang dilaksanakan dengan mewakili banyak orang yang dikerjakan harus 40 orang,yang intinya sholat jum’at adalah sholat yang ditujukan untuk para kabilah ditanah arab untuk menerima pengarahan atau baiat yang jumlahnya orang ada 40 / karena pada waktu itu nabi muhammad hanya membatasi baiat sebanyak 40 orang sekaligus mereka menerima arahan dari nabi muhammad sebelum mereka meninggalkan kediaman nabi muhammad untuk menyebarkan agama islam,namun mereka tetap harus mengerjakan sholat fardlu dhuhur secara jama’ah,nah nabi muhammad tetap mengerjakan sholat dzuhur setelah selesai mengerjakan sholat jum’at,dan nabi muhammad baru memberi bai’at kepada para kabilah yang datang pada hari jum’at saja

    kemudian pada perkembangannya sholat jum’at sepeninggalan nabi muhammad tetap dikerjakan dan tetap melaksanakan sholat dhuhur,tapi pada zaman dynasty muawiyyah sholat dzuhurnya ditinggalkan
    cukup dikerjakan sholat jum’atnya saja,yang paling parah ada yang meriwayatkan bahwa ketika idul fitri datang hari jum’at maka sholat dzuhur dan sholat jum’at gak usah dikerjakan melainkan cukup diwakilkan sholat ied saja,masya Alloh nau’dzubillah

    dan banyak ajaran ajaran nabi muhammad yang sudah di belokkan oleh beberapa perawi yang sebenarnya itu dah tergolong ajaran yang menyimpang dari kemurnian ajaran nabi muhammad itu sendiri
    makanya sebelumnya nabi muhammad sebagai seorang rosul telah menunjuk 12 imam maksum sebagai
    ahlu bait untuk membenarkan ajaran islam secara murni dan anti bid’ah

    gmana mbah masih berduka?

    mbah arifyanto ini adalah sahabat saya,kebetulan beliaunya lagi di masa kesedihan saya hibur dia dengan mengikuti pengajian ahlu bait ditempat saya,pada awalnya beliau sering ditemui oleh arwah almarhumah istrinya untuk mintak kiriman doa,setelah saya kasih masukan dan nasehat yang berarti akhirnya beliau,saya dan pamannya mbah arif datang ke pemakaman istrinya di sidoarjo dari sana di talqin,dan ditahlili agar arwahnya di bebaskan dari siksa kubur karena mbah arif melihat sendiri di kening kepala istrinya terlihat garis merah ,itu artinya istrinya mbah arif belum di talqin di dalm kuburnya,dan masih ada beberapa pertanyaan yang arwah istri mbah arif gak bisa menjawabnya,setelah kami bertiga selesai membaca tangannya paman mbah arif terasa bergetar hebat waktu diletakkan di pusara makam,alhamdulillah setelah itu mbah arif terasa plong karena arwah sang istri tidak lagi membayangi pikiran mbah arif,memang pada kenyataannya jika kita mau doa doa kita nyampe kehadirat Alloh harus lewat tawasul ke 12 imam ahlu bait,nama nama ahlu bait sudah di posting oleh beliau di blog ini dengan judul “tawasul lengkap”

  5. vice mengatakan:

    Saya pernah berkenalan dengan aliran sy’ah (keturuna arab) ,…memang sholatnya tdk bersedekap, waktu, tahyatnya (pokonya bacaan banyak perbedaan),…
    Saya belum bisa banyak berpendapat karena memang sy kurang reprensi..
    Saya tidak dapat menyalahkan/membenarkan karena memang saya kurang ILMU
    Saya berkeinginan dari hati yang terdalam agar ALLAH SWT membimbing saya dijalanNYA..AMIN

  6. IMAM HUSAIN BIN ALI mengatakan:

    ALLAHUMMA SHOLLI ALA MUHAMMAD WA-ALI MUHAMMAD

  7. IMAM HUSAIN BIN ALI mengatakan:

    Imam Hasan Askari dan Persiapan Masa Keghaiban Imam Zaman

    Imam Hasan al-Askari putra Imam Ali al-Hadi dilahirkan pada 8 Rabiul Tsani 232 H di kota Madinah, tempat berhijrahnya Rasulullah Saw, pusat pengembangan Islam serta tempat berdirinya Madrasah Ahlul Bait Nabi. Julukan al-Askari yang beliau sandang itu karena dinisbatkan pada suatu tempat yang bernama Askar, di dekat kota Samara’. Ibu Imam Hasan Askari bernama Haditsa, meski ada juga yang menyebut ibu beliau bernama Susan atau Salil. Sejak kecil hingga berusia 23 tahun, beliau melalui hidupnya di bawah asuhan, bimbingan dan didikan ayahnya, Imam Ali al-Hadi. Tidak heran, jika beliau akhirnya menjadi orang terkermuka dalam bidang ilmu, akhlak dan ibadah. Waktunya beliau manfaatkan untuk menimba ilmu sekaligus menerima warisan imamah dari ayahnya atas titah Ilahi.

    Sejarah kehidupan manusia suci ini bertepatan dengan pemerintahan al-Mu’taz, al-Mukhtadi dan al-Mu’tamad. Selama tujuh tahun masa keimamahannya, beliau serta semua pengikutnya mendapatkan tekanan dari pemimpin Dinasti Abbasiyah. Imam Hasan al-Askari pernah di penjara tanpa alasan sedikit pun. Rasa iri terhadap Ahlul Bait Rasulullah Saw telah merasuk hampir kepada seluruh raja Dinasti Abbasiyah. Melihat penindasan yang sangat menekan itu, Imam Hasan al-Askari a.s. mengambil inisiatif untuk memberlakukan sistem taqiyah bagi para pengikutnya.

    Di sisi lain, orang-orang Turki mulai mempunyai kedudukan yang kuat dalam bidang politik. Al-Mu’taz berusaha menyingkirkan mereka, namun mereka cukup kuat. Dan ketika terjadi keributan antara orang-orang Turki dengan pasukan al-Mutaz, akhirnya pasukan al-Mu’taz berhasil dikalahkan dan al-Mu’taz sendiri kemudian diturunkan dari tahtanya oleh Salih bin Washif al-Turki dan disiksa serta dipenjarakan dalam sel yang sempit hingga mati. ltu semua terjadi pada tahun 255 H. Kekuasaan kemudian beralih ke tangan al-Mukhtadi, yang juga mengalami bentrokan dengan orang-orang Turki. Dia pun bernasib buruk dan terbunuh pada tahun 256 H.

    Setelah kematian al-Mukhtadi, kekuasaan beralih ke tangan al-Muktamid. Dia tidak berbeda dengan penguasa-penguasa sebelumnya dalam hal kebencian dan kedengkiannya kepada Ahlul Bait. Apalagi dia mendengar bahwa Imam Mahdi, yang akan menegakkan keadilan merupakan putra Imam Hasan al-Askari. Kebenciannya itu terbukti dari segala cara yang dia gunakan untuk menyingkirkan dan membunuh Imam Hasan al-Askari. Ketika Imam Hasan al-Askari dalam keadaan sakit, al-Muktamid mengutus seorang dokter serta hakim dan pengawalnya untuk memata-matai segala gerak-gerik Imam.

    Strategi Dakwah Imam Hasan Askari

    Sebagai Imam pembimbing umat, Imam Hasan Askari dalam menjalankan dakwahnya tetap menjaga strategi yang diterapkan ayah serta pendahulunya dari para Imam lainnya. Selain itu, beliau juga memikul tugas berat lainnya demi kelangsungan Imamah yaitu mempersiapkan masa keghaiban anaknya, Imam Mahdi as, khususnya bagi para pengikut Syiah dan pecinta Ahlul Bait. Mengingat keghaiban seorang Imam belum pernah terjadi dalam sejarah, maka tugas untuk mempersiapkan kondisi ini tentunya sangat berat bagi Imam Askari. Untungnya sejak awal baik Rasulullah Saw dan Imam Ahlul Baitnya sejak semula telah mengatisipasi hal ini dan dengan berbagai hadis beliau, umat Islam telah disadarkan dengan akan munculnya penyelamat dunia dan ia dari keturunan Nabi.

    Namun di era kepemimpinan Imam Hasan Askari, meski muslimin telah terdidik dan menyadari akan munculnya penyelamat akhir zaman melalui berbagai hadis, upaya untuk meyakinkan umat akan keghaiban imam mereka dalam jangka waktu yang tidak dapat diprediksikan merupakan hal yang cukup sulit. Sementara ketika itu, berbagai upaya untuk menyebarkan ideologi Penantian al-Mahdi as telah digalakkan di antara umat Islam, namun masih belum maksimal ke taraf ideologi ini menjadi keimanan yang kokoh bagi muslimin.

    Imam Hasan Askari mengerahkan segenap upayanya untuk mengokohkan serta menyadarkan umat akan posisi Imam Mahdi as serta mengimani sepenuhnya terhadap keghaiban imam mereka yang ke 12. Imam Hasan sejatinya berjuang mendidik generasi pilihan untuk selanjutnya mendidik generasi setelahnya di era keghaiban Imam Mahdi as. Untuk mensukseskan tujuannya, Imam Hasan pertama-tama menyembunyikan anaknya dari umat Islam dan hanya mengenalkannya kepada sejumlah sahabat utamanya. Selanjutnya beliau hanya memberikan keterangan terkait masa keghaiban kubra (panjang) bagi anaknya. Dengan demikian beliau telah mempermudah umat Islam untuk menerima masa ini dan ideologi penantian al-Mahdi semakin tersebar luas dan melebut dalam kehidupan masyarakat.

    Selain itu, Imam Hasan juga memberi pengarahan kepada umat mengenai kondisi politik yang ada dan mendekatkan kondisi ini dengan ideologi sang penyelamat dunia (Imam Mahdi) serta pentingnya mengadakan perubahan mendasar dari kondisi politik saat itu. Imam Hasan Askari juga memberikan arahan khusus kepada sejumlah sahabat dekatnya terkait ideologi keghaiban dan urgensitas persiapan umat untuk menerimanya. Hal ini diharapkan umat semakin mudah menerima keghaiban imam mereka.

    Di sebuah suratnya kepada Sheikh Sadoq, Imam Hasan Askari berkata,”Selamat untukmu dan bersabarlah di masa penantian ! Rasulullah bersabda, ibadah paling mulia umatku adalah penantian Imam Mahdi dan Syiahku senantisa bersedih hingga munculnya anak keturunanku. Rasulullah memberi kabar gembira bahwa Imam Mahdi akan memenuhi bumi dengan keadilan di saat kezaliman memenuhi bumi. Wahai Sheikh Sadoq bersabarlah ! Wahai Abul Hasan (Sheikh Saduq) ajaklah seluruh umat Syiah untuk bersabar bahwa bumi milik Allah Swt dan Dia akan mewariskannya kepada hambaNya dan kebahagiaan hanya milik mereka yang bertakwa.”

    Strategi Lain Imam Hasan Askari

    Di masa pemerintahan Bani Umayah dan Abbasiyah, banyak pengikut Ahlul Bait yang melarikan diri dari Madinah maupun Mekah. Mereka mengungsi ke berbagai wilayah Islam lainnya yang jauh dari pusat pemerintahan. Tak hanya muslimin dan pengikut Syiah yang mengungsi, para keluarga Rasul juga turut meninggalkan Madinah dan memilih tempat yang jauh dari jangkauan rezim. Salah satu wilayah yang menjadi tujuan mereka adalah Iran. Di wilayah inilah pengikut Syiah dan keluarga Rasul dapat mengecap kehidupan yang cukup aman dari rongrongan penguasa.

    Meski pengikut Syiah aman dari gangguan pemerintah dengan pengungsiannya tersebut, namun muncullah kendala baru. Kendala tersebut adalah jauhnya akses mereka ke para Imam Maksum. Di kondisi seperti inilah, Imam Hasan Askari menerapkan strategi baru dengan membentuk sistem perwakilan di setiap daerah. Dengan demikian interaksi umat dengan beliau terjadi melalui media para wakil tersebut. Di sisi lain, umat Islam pun semakin mudah mengajukan pertanyaan dan problem yang mereka hadapi ke Imam melalui wakil-wakil ini.

    Imam Hasan Askari memanfaatkan dengan baik sistem perwakilan yang beliau bentuk ini untuk membimbing umat. Beliau memilih sahabat yang terpercaya dan ahli agama sebagai wakil-wakilnya. Sistem ini juga berperan besar dalam menjaga keutuhan interaksi umat dengan Imam serta terjaganya budaya keislaman di tengah masyarakat. Pemanfaatan dengan benar sistem ini membuat ajaran Islam tersebar luas termasuk filsafat keghaiban Imam Zaman as baik itu yang berbentuk buku, makalah dan hadis yang tersebar luas di tengah umat. Selain itu, sistem ini membantu Imam Hasan mengorganisir para pecinta Ahlul Bait yang tercerai-berai dari sisi ekonomi dan sosial.

    Yang pasti tugas Imam Hasan mempersiapkan masa keghaiban Imam Mahdi as, bukan pekerjaan ringan, namun beliau menjalankannya dengan baik. Sampai-sampai mata-mata dan orang bayaran rezim Abbasiyah tidak menyadari kelahiran Imam Mahdi as. Imam hanya mengenalkan anaknya kepada segelintir sahabat terpercayanya. Dengan demikian setelah ayahnya gugur syahid, Imam Mahdi as mengalami masa ghaib hingga nantinya muncul dan berjuang menyebarkan keadilan serta mengobarkan revolusi global.(IRIB Indonesia)

  8. IMAM AL HUSAIN BIN ALI mengatakan:

    Imam Mahdi as Dalam Al-Quran

    Konsep Imam Mahdi as sebagai juru penyelamat adalah sebuah konsep yang sudah diterima oleh semua agama samawi, bahkan oleh semua umat manusia meskipun nama yang ditentukan untuk menyebutnya berbeda-beda. Kesepakatan konsep ini dapat kita bahas pada kesempatan yang lain.
    Oleh karena itu, dalam al-Quran terdapat beberapa ayat yang ditafsirkan dengan keberadaan Imam Mahdi as sebagai seorang juru penyelamat. Ayat-ayat tersebut adalah sebagai berikut:
    a. Surah al-Qashash (28) : 5
    وَ نُرِيْدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِيْنَ اسْتُضْعِفُوْا فِي الْأَرْضِ وَ نَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَ نَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِيْنَ
    “Dan Kami ingin memberikan anugrah kepada orang-orang yang tertindas di muka bumi ini, menjadikan mereka para pemimpin, dan menjadikan mereka sebagai para pewaris.”
    Secara lahiriah, ayat ini menggunakan kata kerja mudhâri’ dalam menjelaskan maksud Allah. Secara realita, janji-janji yang termaktub dalam ayat tersebut belum terealisasikan hingga sekarang. Dengan pemerintahan yang telah dibentuk oleh Rasulullah saw di Madinah yang berjalan kurang lebih selama sepuluh tahun, kami kira hal itu belum terwujudkan secara sempurna mengingat masih banyak pojok dunia yang belum pernah mencicipi lezatnya hukumnya Islam.
    Menurut beberapa hadis, ayat ini mengindikasikan tentang Imam Mahdi as, bahwa semua janji Allah itu akan terwujud pada saat beliau turun ke bumi dan membentangkan sayap keadilan di atasnya. Dalam Nahjul Balâghah, Imam Ali as berkata:
    لَتَعْطُفَنَّ الدُّنْيَا عَلَيْنَا بَعْدَ شِمَاسِهَا عَطْفَ الضَّرُوْسِ عَلَى وَلَدِهَا
    “(Pada waktu itu), dunia akan menganugrahkan kelembutannya kepada kami setelah ia membangkang sebagaimana unta betina yang membangkang (baca: enggan memberi air susu kepada anaknya) menyayangi anaknya.”
    Ibnu Abil Hadid berkata: “Para sahabat (baca: ulama) kita berpendapat bahwa beliau menjanjikan (kemunculan) seorang imam yang akan menguasai bumi dan menaklukkan seluruh kerajaan dunia.”
    Dalam sebuah hadis yang lain beliau berkata: “Orang-orang tertindas di muka bumi yang termaktub di dalam al-Quran dan akan dijadikan para pewaris oleh Allah adalah kami, Ahlulbait. Allah akan membangkitkan Mahdi mereka yang akan memuliakan mereka dan menghinakan para musuh mereka.” [1]
    b. Surah an-Nûr (24) : 56
    وَعَدَ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَ عَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَ لَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَ لَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُوْنَنِيْ لاَ يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْئًا وَ مَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُوْنَ
    “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih untuk menjadikan mereka sebagai khalifah di muka bumi ini sebagaimana Ia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka sebagai khalifah, menyebarkan bagi mereka agama yang telah diridhainya untuk mereka secara merata dan menggantikan ketakutan mereka dengan rasa keamanan (sehingga) mereka dapat menyembah-Ku dan tidak menyekutukan-Ku. Barangsiapa ingkar setelah itu, merekalah orang-orang yang fasiq.”
    Secara lahiriah, kita dapat menagkap tiga janji dari ayat tersebut:
    Pertama, menjadikan mereka sebagai khalifah di atas bumi ini.
    Kedua, menyebarkan agama mereka (Islam) di atas bumi secara merata sehingga dapat dinikmati oleh seluruh penduduk dunia.Ketiga, menggantikan rasa takut mereka dengan rasa aman sehingga mereka dapat menyembah Allah dengan penuh keleluasaan dan tidak menyekutukan-Nya.
    Yang jelas, semua janji itu belum pernah terwujudkan hingga sekarang. Kapankah kita pernah merasakan Islam dijalankan secara sempurna? Oleh karena itu, dalam beberapa hadis Ahlulbait as, kita akan menemukan takwil dari ayat tersebut bahwa semua janji itu akan terealisasikan pada masa kemunculan Imam Mahdi as.
    Dalam tafsir Majma’ al-Bayân disebutkan bahwa Imam Ali bin Husain as pernah membaca ayat tersebut. Setelah itu beliau berkata: “Demi Allah, mereka adalah para pengikut kami Ahlulbait as. Allah akan mewujudkan semua itu dengan tangan salah seorang dari kami. Ia Adalah Mahdi umat ini, dan ia adalah orang yang disabdakan oleh Rasulullah saw: “Jika tidak tersisa dari usia dunia ini kecuali satu hari, niscaya Allah akan memanjangkannya hingga seorang dari ‘Itrahku muncul. Namanya sama dengan namaku. Ia Akan memenuhi bumi ini dengan keadilan sebagaimana ia telah dipenuhi oleh kezaliman dan kelaliman.”[2] Tanpa diragukan lagi pembahasan tentang mahdi as telah tertera di pelbagai sumber dan kitab-kitab Islami. Rasul saw sendiri yang mengajarkan hal tersebut. Imam Ali as dan para imam yang lain juga tidak ketinggalan, mereka senantiasa menyinggung pembahasan yang satu ini dan mengulang-ulangnya. Para ulama dan pemuka sekte-sekte islam sepanjang sejarah juga satu demi satu di segenap penjuru Negara Islam telah menulis dan menyusun buku yang tidak sedikit jumlahnya.
    Dengan pelbagai hal tersebut apakah dapat dibayangkan topik dan pembahasan yang begitu populer dan urgen ini tidak tertera dalam kitab suci al-Quran?
    Jawaban tentu tidak. Pasti pembahasan semacam ini benih-benihnya telah terdapat di dalamnya. Al-Quran sebatas singgungan atau secara gamblang telah menjelaskan peristiwa dan kejadian yang nantinya akan terjadi di akhir zaman seperti kemenangan kaum mukmin terhadap kaum non-mukmin. Ayat-ayat semacam ini, telah ditafsirkan oleh para mufasir-dengan mengacu pada riwayat dan poin-poin tafisiri-berkaitan dengan pemerintahan Imam Mahdi as di akhir zaman.
    Al-hasil para mufasir mutaakhir menghitung dan mentahqiq jumlah ayat-ayat yang berkaitan dengan beliau as, jumlah sensaionalpun mereka dapatkan yaitu sekitar 350 ayat. Tahqiq ini dilakukan oleh Yayasan Intidhare Nur. Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa metode mereka dalam pencarian tersebut adalah umum mencakup ayat-ayat yang secara gamblang menjelaskan permasalahan Mahdawiyah dan yang lain, atau ayat yang para mufasir dengan suatu hal dalam tafsiran ayat tersebut membawakan riwayat atau pembahasan Mahdawiyah.
    Pada kesempatan ini, kita akan membawakan 10 ayat saja yang memiliki indikasi yang jelas terhadap permasalahan Mahdawiyah.
    Ayat pertama
    وَ لَقَدْ كَتَبْنا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الأَْرْضَ يَرِثُها عِبادِيَ الصَّالِحُونَ ( انبيا 105)
    Allah SWT berfirman:
    “Dan sesungguhnya kami telah menuliskan di Zabur setelah Dzikr, bahwa dunia akan diwarisi oleh hamba-hamba yang saleh”.
    Imam Muhammad Baqir as bersabda:”hamba-hamba tuhan yang akan menjadi pewaris bumi-yang tersebut dalam ayat-adalah para sahabat Mahdi as yang akan muncul di akhir zaman.”
    Syekh Thabarsi setelah menukil riwayat ini mengatakan: sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Syi’ah dan Ahlusunnah menjelaskan dan menguatkan riwayat dari Imam baqir as di atas, hadis tersebut mengatakan ‘jika usia dunia sudah tidak tersisa lagi kecuali tinggal sehari, Allah SWT akan memanjangkan hari tersebut sehingga seorang saleh dari Ahlul-baitku bangkit, dia akan memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana dunia telah dipenuhi oleh kezaliman dan kelaliman”’. Imam Abu bakar Ahmad bin Husain Baihaqi dalam buku “al-Ba’tsu wa Nutsur” telah membawakan riwayat yang banyak tentang hal ini [3] .
    Dalam kitab Tafsir Ali bin Ibrahim disebutkan: Kami telah menulis di Zabur setelah zikr … semua kitab-kitab yang berasal dari langit disebut dengan Zikr. Dan maksud dari bahwa dunia akan diwarisi oleh para hamba-hamba yang saleh adalah (Mahdi) Qaim as dan para pengikutnya [4] .
    Ayat kedua
    وَ نُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الأَْرْضِ وَ نَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَ نَجْعَلَهُمُ الْوارِثِينَ (قصص 5)
    Kami menginginkan untuk menganugerahkan kepada mereka yang tertindas, dan akan Kami jadikan para pemimpin dan pewaris dunia.
    Ayat ini sesuai dengan beberapa ungkapan Imam Ali as di dalam Nahjul balagah serta sabda para imam yang lain berkaitan dengan Mahdawiyah, dan sesungguhnya kaum tertindas yang dimaksud adalah para pengikut konvoi kebenaran yang terzalimi yang akhirnya akan jatuh ke tangan mereka. Fenomena ini puncaknya akan terwujud di akhir zaman. Sebagaimana Syekh Shaduq dalam kitab Amali menukil sabda Imam Ali as yang berkata:”ayat ini berkaitan dengan kita”.

    Ayat Ketiga
    يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَ يُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكافِرِينَ يُجاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَ لا يَخافُونَ لَوْمَةَ لائِمٍ (ما ئده 54)
    Wahai orang-orang yang beriman barangsiapa dari kalian berpaling (murtad) dari agamanya maka Allah SWT akan memunculkan sekelompok kaum yang Dia cinta mereka dan mereka juga mencintaiNya,
    Dalam tafsir Ali bin Ibrahim disebutkan:”ayat ini turun berkaitan dengan Qaim dan para penguikutnya merekalah yang berjuang di jalan Allah SWT dan sama sekalim tidak takut akan apapun”.
    Ayat Keempat
    وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَ عَمِلُوا الصَّالِحاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأَْرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَ لَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضى لَهُمْ وَ لَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَ مَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذلِكَ فَأُولئِكَ هُمُ الْفاسِقُونَ ( نور 56)
    Allah SWT menjanjikan orang-orang yang beriman dari kalian dan yang beramal saleh, bahwa mereka akan dijadikan sebagai khalifah di atas muka bumi, sebagaimana Ia juga telah menjadikan para pemimpin sebelum mereka dan –Ia menjanjikan untuk menyebar dan menguatkan agama yang mereka ridhai, dan menggantikan rasa takut mereka menjadi keamanan.
    Syekh Thabarsi mengatakan:”dari para Imam Ahlul bait diriwayatkan bahwa ayat ini berkaitan dengan Mahdi keluarga Muhammad saw. Syekh Abu Nadhr ‘Iyasyi meriwayatkan dari imam Ali Zainal Abidin as bahwa beliau membaca ayat tersebut setelah itu beliau bersabda:”sumpah demi Allah SWT mereka yang dimaksud adalah para pengikut kita, dan itu akan terealisasi berkat seseorang dari kita. Dia adalah Mahdi (pembimbing) umat ini. Dialah yang rasul saw bersabda tentangnya:”jika usia dunia sudah tidak tersisa lagi kecuali sehari lagi, Allah SWT akan memanjangkan hari tersebut sampai seseorang dari keluarga ku muncul dan memimpin dunia. Namanya seperti namaku (Muhammad), riwayat semacam ini juga dapat ditemukan melalui jalur yang lain seperti dari imam Muhammad Baqir as dan imam Ja’far Shadiq as”.
    Aminul Islam Syekh Thabarsi mengakhiri ucapan dan penjelasannya tentan ayat ini dengan penjelasan berikut ini:”mengingat penyebarluasan agama ke seluruh penjuru dunia dan belum betul-betul global, maka pastilah janji ini akan terwujud dalam masa yang akan datang, di mana hal tersebut-globalitas agama- tidak dapat dielakan dan dipungkiri lagi”. Dan kita ketahui bahwa janji Allah tidak akan pernah hanya janji semata.
    Ayat Kelima
    هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدى وَ دِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَ لَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
    Dialah Zat yang yang telah mengutus rasulNya dengan hidayah dan agama yang benar untuk sehingga Ia menangkan agama tersebut terhadap agama-agama yang lain, kendati para musyrik tidak menginginkannya.

    Dalam kitab tafsir Kasyful Asyrar, disebutkan:
    Rasul dalam ayat tersebut adalah baginda nabi Muhammad saw, sedang hidayah yang dimaksud dari ayat tersebut adalah kitab suci al-Quran dan agama yang benar itu adalah agama Islam. Allah SWT akan memangkan agama (Islam)ini, atas agama-agama yang lain, artinya tiada agama atau pedoman di atas dunia, kecuali ajaran Islam telah mengalahkannya. Dan hal ini sampai sekarang belum terwujud. Kiamat tidak akan datang kecuali hal ini terwujud. Abu Said al-Khudri menukil, bahwa Rasul saw pad suatu kesempatan menyebutkan bala dan ujian yang akan datang kepada umat Islam, ujian itu begitu beratnya, sehingga beliau mengatakan bahwa setiap dari manusia tidak dapat menemukan tempat berlindung darinya. Ketika hal ini telah terjadi, Allah SWT akan memunculkan seseorang dari keluargaku yang nantinya dunia akan dipenuhi oleh keadilan. Seluruh penduduk langit dan bumi rela dan bangga dengannya. Di masanya hujan tidak akan bergelantungan di atas langit kecuali akan turun untuk menyirami bumi, dan tiada tumbuh-tumbuhan yang ada di dasar bumi kecuali bersemi dan tumbuh. Begitu indah dan makmurnya kehidupan di masa itu sehinga setiap orang berandai-andai jika sesepuh dan sanak keluaerganya yang telah meninggal dunia kembali lagi dan merasakan kehidupan yang sedang mereka rasakan.
    =====================================================================================
    [1] Al-Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jilid 51, hal. 63, bab ayat-ayat yang ditakwilkan dengan Imam Mahdi as.
    [2] At-Thabarsi, Majma’ al-Bayân, jilid 7, hal. 152.
    [3] Tafsir Majma’ul bayan, jild 7, hal 66-67.
    [4] Tafsir Nur Tsaqalain, jild 3, hal 464.
    LikeUnlike · · Follow PostUnfollow Post · 32 minutes ago
    o
    o
    o
    o
    o
    Write a comment…

    Facebook © 2012 · English (US)
    About · Advertising · Create a Page · Developers · Careers · Privacy · Terms · Help

  9. IMAM AL HUSAIN BIN ALI mengatakan:

    Dari Abi Dzarr, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Jadikanlah ahlulbaitku bagimu tidak ubahnya seperti kepala bagi tubuh, dan tidak ubahnya dua mata bagi kepala. Karena, sesungguhnya tubuh tidak akan bisa memperoleh petunjuk kecuali dengan kepala, dan begitu juga kepala takkan bisa memperoleh petunjuk kecuali dengan kedua mata.’ ”

    Bihar al-Anwar, XXIII, hal 121

  10. TDI mengatakan:

    aku ah ga ah mau ah ikutan syiah ah…

  11. syahrir IAIN sunan ampel tafsir hadis mengatakan:

    hadis hadis dari golongan syiah banyak yang palsu,untuk perawi nya banyak nama-nama yang tidak dikenal sedangkan dalam ilmu hadis perawi hadis itu sudah ada kriterianya .ini penting karena menyangkut ajaran rasulullah.memang kalau dibaca sejarah nya kayak benar tapi coba teliti hadis dari kitab -kitab syiah mulai dari perawi sampai matan hadis anda pasti tau kalau dibohongi.tapi anda harus belajar ilmu hadis dulu ok! biar gak ngawur

  12. syahrir IAIN sunan ampel tafsir hadis mengatakan:

    dalam kitab orang syiah banyak menggunakan nama-nama imam seperti sayyidina ali,sayidina hasan dan husen ,imam jakfar sodik untuk berfatwa tapi untuk kebenarannya masih belum bisa dipertanggungjawabkan secarah ilmiah karena sejarahnya banyak yang dikaburkan oleh mereka sendiri karena ada unsur kepentingan pribadi dan golongan.

  13. syahrir IAIN sunan ampel tafsir hadis mengatakan:

    memang kalau sudah bicara perbedaan apalagi berujung perdebatan tidak akan ada selesainya dan parahnya lagi kalau sudah pegang dalil dari kitab dan sunnah yang kebanyakan mereka untuk pemahaman kurang menyeluruh dari segi ilmiahnya gak cukup bisa bahasa arab,nahwu dan shorof

  14. Jack mengatakan:

    sayangnya juga ulama2 sunni tidak membukukan sejarah 12 imam syiah, padahal kalau ada buku sejarah 12 imam dari ulama sunni alangkah gamblangnya urusan umat islam ini, kenapa ya ulama2 sunni gak membukukan sejarah 12 imam, apa takut kepada para penguasa mereka?

  15. Jack mengatakan:

    lalu kenapa ya ulama2 sunni tidak mengkaji lagi hadis2 sahih sunni padahal saya mengetahui syiah dari hadis2 tsb? kok sepi2 saja? apalagi kalau sudah menyangkut para sahabat mereka cenderung diam, kenapa ya?

  16. Jack mengatakan:

    dan yg terpenting belum pernah saya mengetahui ulama2 sunni khususnya di indonesia yg melakukan studi kritis perihal kepalsuan2 kitab2 syiah tentunya dengan melibatkan ulama2 syiah sehingga dapat diketahui umat akan palsu dan tidaknya kitab2 syiah tsb, ya seperti hadis2 sunni ternyata setelah diteliti ulang trnyata banyak yg palsu!

  17. Jack mengatakan:

    menurut saya KALAU INGIN BELAJAR MEMBIKIN RUMAH JANGAN BELAJAR KEPADA ORANG YG AHLI MEMBIKIN BAKSO, KALAU INGIN BELAJAR MENGGAMBAR JANGAN KEPADA ORANG YG AHLI MENYANYI, JADI…..KALAU INGIN MENGETAHUI AKAN AJARAN SYIAH YG SESUNGGUHNYA YA JANGAN BELAJAR KEPADA ULAMA YANG MEMBENCI DAN MEMUSUHI SYIAH, hehhehe

  18. ki surya kencana mengatakan:

    Siapakah Abdullah bin Saba’? Abdullah bin Saba’ adalah seorang Yahudi berasal dari Shan’a, Yaman yang datang ke Madinah kemudian berpura-pura setia kepada Islam pada masa Khilafah Utsman bin Affan R.A. padahal dialah yang sesungguhnya mempelopori kudeta berdarah dan melakukan pembunuhan kepada khalifah Utsman bin Affan, dialah juga pencetus aliran Syi’ah yang kemudian mengkultuskan Ali bin Abi Thalib R.A. Di antara isu-isu yang disebarkan oleh Abdullah bin Saba’ untuk memecah belah Umat Islam pada saat itu antara lain: 1. Bahwa Ali bin Abi Thalib R.A telah menerima wasiat sebagai pengganti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (An Naubakhti , firaq As Syi’ah, hal. 44) 2. Bahwa Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan R.A. adalah orang-orang zhalim, karena telah merampas hak khilafah Ali R.A. setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Umat Islam saat itu yang membai’at ketiga khilafah tersebut dinyatakan kafir. (An Naubakhti, op cit, hal. 44) 3. Bahwa Ali bin Abi Thalib adalah pencipta semua mahluk dan pemberi rezeki. (Ibnu Badran, Tahdzib al Tarikh al Dimasyq, Juz VII, hal. 430) 4. Bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan kembali lagi ke dunia sebelum hari kiamat, sebagaimana kepercayaan akan kembalinya Nabi Isa A.S. (Ibnu Badran, op cit, juz VIII, hal. 428) 5. Bahwa Ali R.A. tidak mati, melainkan tetap hidup di angkasa. Petir adalah suaranya ketika marah dan kilat adalah cemetinya. (Abd. Al Thahir Ibnu Muhammad Al Baghdadi, Al Firaq Baina Al Firaq, hal. 234) 6. Bahwa ruh Al Quds berinkarnasi ke dalam diri para Imam Syi’ah . (Al Bad’u wa Al Tarikh, juz V, hal. 129, th
    1996) 7. Dan lain-lain Dapat ditambahkan pula bahwa Abu Muhammad al Hasan Ibnu Musa An Naubakhti , seorang ulama Syi’ah yang terkemuka , di dalam bukunya “Firaq As Syi’ah” hal. 41-42 mengatakan bahwa Ali R.A. pernah hendak membunuh Abdullah bin Saba’ karena fitnah dan kebohongan yang disebarkan, yakni menganggap Ali sebagai tuhan dan mengaku dirinya sebagai Nabi, akan tetapi tidak jadi karena tidak ada yang setuju. Lalu sebagai gantinya Abdullah bin Saba’ dibuang ke Mada’in, ibu kota Iran di masa itu. Apa Persoalannya? M. Hashem di dalam bukunya tersebut mencoba untuk menghilangkan figur Abdullah bin Saba’ dari panggung sejarah, alasannya: 1. Seluruh berita tentang Abdullah bin Saba’ yang ditulis dalam buku-buku sejarah baik oleh Ibnu Katsir, Ibnu Atsi, Ahmad Amin, Nicholson, Wehausen maupun yang lainnya, mengutip dari buku sejarah tulisan Ath Thabari. 2. Sedangkan Ath Thabari memperoleh berita tentang Abdullah bin Saba’ melalui jalur Saif bin Umar At Tamimi. 3. Padahal Saif bin Umar At Tamimi dikenal sebagai perawi yang lemah, suka berdusta dan tidak bisa dipercaya. Demikian menurut ahli-ahli hadits seperti Ibnu Hajar, Ibnu Hibban, Al Hakim, nasa’i dan lain-lain. Oleh karena itu kata M. Hasem berita tentang Abdullah bin Saba’ yang ditulis dalam buku sejarah dengan mengambil sumber buku Ath Thabari tak dapat dipercaya, karena dalam setiap jalur riwayat (sanad) yang diambil oleh Ath Thabari terdapat Saif bin Umar At Tamimi. Begitu kata M. Hashem (lihat skema hal. 81). Hanya dengan alasan itu saja M. Hashem menyimpulkan bahwa yang disebut Abdullah bin Saba’ adalah tokoh fiktif yang tidak pernah ada. Buku tersebut ternyata ada juga pengaruhnya di kalangan intelektual (yang tidak berpendirian) seperti mendiang Nurcholis Majid (Tempo, 19 Desember 1987, hal. 102) atau yang serupa dengannya dan mereka yang tidak mempunyai pengetahuan tentang sejarah Islam. Sebenarnya yang mengatakan bahwa Abdullah bin Saba’ adalah tokoh fiktif, sudah agak lama juga muncul. Pendapat tersebut dipelopori oleh orientalis dan dikembangkan oleh Murtadah Al Askari, seorang tokoh Syi’ah pertengahan abad XX yang berasal dari Iraq. Kemudian diikuti oleh; Dr. Kamal Asy-Syibi, Dr. Ali Al-Wardi (keduanya murid orientalis dari Iraq). Dr. Thaha Husein, Dr. Muhammad Kamil Husein, Thalib Al Husein, Al Rifa’i (murid-murid orientalis dari mesir), Muhammad Jawad Al mughniyah, Dr. Abdullah Fayyah (murid-murid orientalis dari Libanon). Bagaimana Sebenarnya? Saif bin Umar At Tamimi memang dinyatakan lemah dan tidak dapat dipercaya oleh ulama hadits, tapi dalam masalah yang ada hubungannya dengan hokum Syari’ah, bukan dalam bidang sejarah. Berita tentang adanya Abdullah bin Saba’ tidak hanya melalui jalur Saif bin Umar At Tamimi saja. Malah Abu Amr Muhammad ibnu Umar Al izz Al Kasyi (imam hadits dari kalangan Syi’ah sendiri) meriwayatkan Abdullah bin Saba’ melalui 7 jalur, tanpa melalui Saif bin Umar At tamimi yang dianggap lemah itu. Yaitu dari: 1. Dari Muhammad ibnu Kuluwaihi Al Qummy dari Sa’ad ibnu Abdullah ibnu Abi Khalaf, dari Abdurrahman ibnu Sinan, dari Abdu Ja’far A.S. (Rijal Al Kasyi, hal. 107). 2. Dari Muhammad ibnu Kuluwaihi, dari Sa’ad ibnu Abdillah dari Ya’qub ibnu Yazid dan Muhammad ibnu Isa, dari Abu Umair, dari Hisyam Ibnu Salim dari Abu Abdillah A.S. (Rijal Al Kasyi, hal. 107). 3. Dari Muhammad ibnu Kuluwaihi, dari Sa’ad ibnu Abdillah dari Ya’qub ibnu Yazid dan Muhammad ibnu Isa dari Ali ibnu Mahzibad, dari Fudhallah ibnu Ayyud Al Azdi, dari Aban ibnu Utsman dari Abu Abdillah A.S. (Rijal Al Kasyi, hal. 107). 4. Dari Ya’qub ibnu Yazid, dari Ibnu Abi Umair dan Ahmad ibnu Muhammad ibnu
    Isa dari Ayahnya dan Husein Ibnu Sa’id, dari Ibnu Abi Umair, dari Hisyam ibnu Salim, dari Abu Hamzah Ats Tsumali, dari Ali ibnu Husein. (Rijal Al Kasyi, hal. 108). 5. Dari Sa’ad ibnu Abdillah, dari Muhammad ibnu Khalid Ath Thayalisi, dari Abdurrahman ibnu Abi Najras, dari Ibnu Sinan, dari Abu Abdillah A.S. (Rijal Al Kasyi, hal. 108). 6. Dari Muhammad ibnu Al Hasan, dari Muhammad Al Hasan Ash Shafadi, dari Muhammad ibnu Isa, dari Qasim ibnu Yahya, dari kakeknya Al Hasan ibnu Rasyid, dari Abi Bashir, dari Abu Abdillah A.S. (Al Shaduq, Ila Al Syara’i’I, cetakan ke II, hal. 344). 7. Dari Sa’ad ibnu Abdillah, dari Muhammad Isa ibnu Ubaid Al Yaqthumi, dari Al Qasim ibnu Yahya, dari kakeknya Al Hasan Ibnu Rasyid, dari Abi Bashir dan Muhammad ibnu Muslim, dari Abi Abdillah A.S. (Ash Shaduq, Al Khisal, cetakan tahun 1389 H, hal. 628). Demikian dari kalangan Syi’ah sendiri. Adapun dari kalangan Sunni, Al Hafiz Ibnu Hajar Al Asqalani di dalam bukunya “lisan al mizan” (jilid III, hal. 289-290, cetakan I, tahun 1330 H) meriwayatkan tentang Abdullah bin Saba’ melalui enam jalur yang juga tanpa melalui jalur Saif bin Umar At Tamimi. Yaitu: 1. Dari Amr ibnu Marzuq, dari Syu’bah, dari Salamah ibnu Kuhail, dari Zaid ibnu Wahab, dari Ali bin Abi Thalib R.A. 2. Dari Abu Ya’la Al Muslihi, dari Abu Kuraib, dari Muhammad ibnu Al Hasan Al Aswad, dari Harun ibnu Shahih, dari Al Harits ibnu Abdirrahman, dari Abu Al
    Jallas, dari Ali bin Abi Thalib. R.A. 3. Dari Abu Ishaq al Fazari ibnu Syu’bah, dari Salamah ibnu Kuhail, dari Abu Zara’i’i dari Yazid ibnu Wahab. 4. Dari Al Isyari dan Al Alka’i dari Ibrahim, dari Ali. R.A. 5. Dari Muhammad ibnu ‘Utsman Abi Syaiban, dari Muhammad ibnu Al Ala’i, dari Abu Bakar Ayyash, dari Mujalid, dari Asy Sya’bi. 6. Dari Abu Nu’aim, dari Ummu Musa (Yusuf Al Kandahlawai, hayatus shahabah). Berdasarkan 13 riwayat yang tidak melalui Saif bin Umar At Tamimi ini (baik dari ulama Syi’ah maupun ulama Sunni), maka alasan mereka yang hendak menghilangkan figur Abdullah bin Saba’ dari panggung sejarah tidak dapat dipertahankan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mereka terlalu ceroboh dalam melakukan penelitian dan tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan, ataukah memang mereka mempunyai maksud-maksud tertentu. Apa Maksud Mereka? Apa sebenarnya maksud yang terkandung
    pada diri mereka dalam menghilangkan figur Abdullah bin Saba’ dari panggung sejarah, dapatlah kita analisa. 1. Golongan Syi’ah berkeyakinan bahwa Syi’ah telah muncul semenjak zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi kenyataan sejarah tidak dapat
    kita pungkiri bahwa Abdullah bin Saba’-lah pelopornya. Oleh karena itu dengan menghilangkan figur Abdullah bin Saba’ mereka berharap bisa diterima sebagai salah satu mazhab dalam Islam yang tidak ada kaitannya dengan Yahudi. 2. Mendukung gerakan tasykik untuk membingungkan umat Islam dengan cara memutar balikkan fakta sejarah, sehingga umat dialihkan dari apa yang
    seharusnya mereka kerjakan dan lupa akan kelicikan musuh-musuh Islam. 3. Menjauhkan umat Islam dari ulama dan pemimpinnya, serta menghilangkan kepercayaan kepada generasi pertama yaitu generasi sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang seharusny merupakan contoh dan panutan. 4. Menempatkan tokoh-tokoh Syi’ah dan apa yang disebut “pembaru” lainnya, setaraf dengan ulama salaf terdahulu. Lebih dari itu apa pun yang mereka tuju, yang jelas pemikiran seperti itu telah dipelopori oleh kaum orientalis. Apakah mereka memang bagian dari kaki tangan orientalis, ataukah mereka korban tipu daya orientalis? Boleh jadi mereka adalah generasi baru Abdullah bin Saba’. Mari kita buktikan.

  19. ki surya kencana mengatakan:

    beberapa pertanyaan dan
    jawaban tentang syiah yang
    diambil dari buku “Aqooidu
    Asyiiah al-Itsna ‘Asyairoh Suaalun Wa Jawaabun”,
    yang
    dikarang oleh Syeikh
    ‘Abdurrahman as-Syistri .
    Buku ini memuat 164 soal
    dan jawab, dan jawaban-
    jawaban
    tersebut langsung diambil
    dari
    kitab kitab Syiah itu sendiri ,
    sebut saja “Awaailul- Maqoolaat Fi Al-Madzaahib
    Al- Mukhtaaraat”, karya
    ulama
    Syiah bergelar Al-Mufid,
    Muhammad bin Muhammad
    bin Nu’man, kitab “usul-al
    kafy”
    dan sebagainya. Apakah
    definisi
    syiah itu? “Mereka adalah
    siapa saja yang mengikuti amirul
    mu’minin
    Ali Sholatullah ‘alaihi,
    dengan
    segala kepatuhan dan
    keyakinan akan kekhilafahan Ali setelah Rasulullah
    sholawatullah alaihi tanpa
    adanya pemisah, dan
    menafikan ‘kekhalifahan’
    sebelum Ali.” (Muhammad bin
    Muhammad bin Nu’man, “Awaailul-Maqoolaat Fi Al-
    Madzaahib Al-Mukhtaaraat”,
    hal : 35). Dalam aliran Syiah,
    kekhhalifahan Abu
    Bakar,Umar,
    danUtsman Radiyallahuanhu tidak sah, semestinya Ali
    Radiyallahu anh yang
    menjadi khalifah setelah
    Rasulullah
    ShollallahuAlaihi Wa Sallam.
    Benarkah dalam ajaran Syiah,
    Jibril salah dalam
    menyampaikan wahyu?
    “Allah
    mengutusjibrilalaihiassalamuntuk
    Ali, dan ternyata Jibril keliru dalam menyampaikan
    “risalah”
    atawa wahyu yang
    seharusnya
    untuk Ali diberikan kepada
    Muhammad.” (Al-Jazaairie, Nurul
    Barahin, Juz 2 hal : 35)
    Apakah benar bahwa
    ‘Aisyah Radiyallahu anha
    merupakan seorang
    pezina dalam ajaran Syiah? “Ketika Mahdi
    munculnantinya,
    sesungguhnya Imam Mahdi
    akan menghidupkan ‘Aisyah

    dan memberikan “had” (hukuman yang
    diberikan
    seseorang, layaknya had
    zina
    adalah cambuk,
    ataurajambagi yang berkeluarga) kepadanya,
    ” perkataan ini diutarakan
    oleh
    imam mereka “Al- Majlisy
    dalam
    kitabnya “HaqqulYaqien”, hal:
    347. Bahkan mereka
    menyatakan:
    , ﺭﺎﻨﻟﺎﻬﺟﺮﻔﻠﺧﺪﻴﻧﺃﺪﺑﻼﻴﺒﻨﻟﺎﻧﺇ
    ﺕﺎﻛﺮﺸﻤﻟﺎﻀﻌﺒﺌﻃﻮﻬﻧﻷ )
    ﺭﺎﻬﻃﻷﺍﺔﻤﺋﻷﺍﺔﺋﺮﺒﺗﻭﺭﺍﺮﺳﻷﺎﻔﺸ 24 “Sesungguhnya Nabi
    (Muhammad) seharusnya
    kemaluannya masuk kedalam
    neraka, karena telah
    menggauli beberapa wanita
    musyrik!.” (menurut mereka ‘Aisyah dan Hafsah adalah
    musyrik). (Al-Muswy,
    Kasyful-
    Asror Wa Tabriatul-Aimmah,
    hal :24). Kenapa di masjid
    Nabawi sering terlihat kaum Syiah ikut
    menshalati jenazah Ahlus
    Sunnah (kaum Sunni)?
    Jawabannya; Karena niat
    mereka adalah mendoakan,
    dan doa tersebut berisi laknat
    yaitu: “Ya Allah penuhilah
    lambungnya dengan api,
    kuburnya dengan api, dan
    kuasakan ular dan
    kalajengking atas mereka.” (dalam kita
    Al- Hurr al-Aamili,Wasail al-
    Syi’ah,
    2/771) Apakah Islam Sunni
    dan
    Agama Syiah sama Tuhan dan Nabinya?
    “Sesungguhnya
    Tuhan yang
    manakhalifah setelah
    Nabinya (Muhammad) adalah
    Abu BakarsejatinyabukanTuhan
    kami, dan begitu pula
    Nabinya
    bukan Nabi
    kami,” (Ni’matullahAljazaairy,
    al- Anwar al-Nu’maniyah,
    2/278) Benarkah kaum Syiah
    dan
    Sunni perbedannya hanya
    pada shalat saja?
    Pengakuan- pengakuanbeberapakalanganba
    di Indonesia tidak
    mengkafirkan
    sahabat radiyallahu’anhum,
    tidak menganggap ‘Aisyah
    sebagai pezina, melarang mut’ah
    dan me ngaku
    perbedaannya dengan Sunni
    hanyalah masalah shalat
    yang
    dijama’ setiap waktu nampaknya amat sukar
    dipercaya. Alasannya cukup
    sederhana,
    Syiah memiliki ajaran yang
    mewajibkan pemeluknya
    untuk berbohong, yang dikenal
    sebagai “taqiyyah”.
    Taqiyyah
    adalah “menyembunyikan
    kebenaran, menutupi
    keyakinan, demi maslahat agama dan dunia”. “Wa la
    diina li
    man la
    taqiyyatalahu.” (Tidakberagam
    orang yang tidak
    bertaqiyyah), begitu ujar Muhammad Al-
    Kalini
    di Usul al-Kaafie, juz : 2
    hal :576 dan kitab ini adalah
    kitab
    yang paling dianggap shahih dalam Syiah. Ada pula
    pendapatlain;
    “Barangsiapa yang beriman
    dengan Allah dan hari akhir,
    maka jangan berbicara di
    “Daulatul-Batil” (Negara yang Batil) kecuali dengan
    ‘taqiyyah’.
    “(Muhammad Baaqir al-
    Majlisy
    dalam Bihaarul-Anwar,
    72/421). Mereka menganggap,
    negara-
    negara yang berpenduduk
    mayoritas Islam Sunni
    sebagai “Daulatul-Batil”.
    Masalahnya, betapa sulitnya
    untuk bisa membedakan
    kapan
    mereka jujur dan kapan
    bertaqiyyah. Karenanya,
    meminjam istilah santri “syammir wa Jidda”
    atawa “sisingkan lengan
    baju
    lantas berjuang”
    nampaknya
    sudah layak untuk dikumandangkan berbagai
    pihak.
    Para dai, ustad, para
    cendekiawan dengan
    pemikirannyam bahkan para
    ibu kepada anak-anaknya. Sebaiknya kita juga perlu
    membacakan kisah-kisah
    Rasullullah shollallahu alaihhi
    wa sallam dan para
    sahabatnya
    layaknya Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali, Abu Hurairah
    Ridwanullah alaihim dan para
    generasi ‘salaf’ lainnya
    terhadap
    buah hati sebelum tidur,
    demi terjaganya “anak- cucu” dari aqidah
    menyesatkan
    ini. Anggapan kedudukan Ali
    layaknya “Tuhan”, serta
    cacian mereka terhadap
    para shahabat Nabi dan ibunda
    kita ‘Aisyah, menganggap
    lalainya
    Jibril menyampaikan wahyu
    di
    mata mereka, dan sejumlah paham-paham syiah.

  20. ki surya kencana mengatakan:

    Apa Itu Syi’ah?
    Syi’ah menurut etimologi
    bahasa Arab bermakna
    pembela dan pengikut
    seseorang. Selain itu juga
    bermakna: Setiap kaum yang berkumpul di atas suatu
    perkara. (Tahdzibul Lughah
    3/61, karya Azhari dan Tajul
    Arus 5/405, karya az-Zabidi.
    Dinukil dari kitab Firaq
    Mu’ashirah, 1/31, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali al-Awaji)
    Adapun menurut terminologi
    syariat bermakna: Mereka
    yang menyatakan bahwa Ali
    bin Abu Thalib z lebih utama
    dari seluruh sahabat dan lebih berhak untuk
    memegang
    tampuk kepemimpinan kaum
    muslimin, demikian pula anak
    cucu sepeninggal beliau. (al-
    Fishal fil Milali wal Ahwa wan Nihal, 2/113, karya Ibnu
    Hazm) Syi’ah, dalam
    sejarahnya
    mengalami sejumlah
    pergeseran. Seiring dengan
    bergulirnya waktu, kelompok ini terpecah menjadi lima
    sekte yaitu Kaisaniyyah,
    Imamiyyah (Rafidhah),
    Zaidiyyah, Ghulat, dan
    Isma’iliyyah. Dari kelimanya,
    lahir sekian banyak cabang- cabangnya. (al-Milal wan
    Nihal,
    hlm. 147, karya asy-
    Syihristani)
    Tampaknya, yang terpenting
    untuk diangkat pada edisi kali
    ini adalah sekte Imamiyyah
    atau Rafidhah, yang sejak
    dahulu hingga kini berjuang
    keras untuk menghancurkan
    Islam dan kaum muslimin. Dengan segala cara,
    kelompok
    sempalan ini terus-menerus
    menebarkan berbagai
    macam
    kesesatannya. Terlebih lagi kini didukung dengan negara
    Iran-nya.
    Rafidhah ﺭَﺍﻓِﻀَﺔ, diambil dari
    ُﺾُﻓْﺮَﻳ – ﺭَﻓَﺾَ yang menurut etimologi bahasa
    Arab
    bermakna ﺗَﺮَﻙَ – ﻳَﺘْﺮُﻙُ, meninggalkan (al-Qamus al-
    Muhith, hlm. 829).
    Sedangkan dalam terminologi
    syariat bermakna: Mereka
    yang menolak imamah
    (kepemimpinan) Abu Bakr dan Umar c, berlepas diri
    dari
    keduanya, dan mencela
    sekaligus menghina para
    sahabat Nabi n. (Badzlul
    Majhud fi Itsbati Musyabahatir
    Rafidhati lil Yahud, 1/85,
    karya Abdullah al-Jumaili)
    Abdullah bin Ahmad bin
    Hanbal
    berkata, “Aku telah bertanya
    kepada ayahku, siapa
    Rafidhah itu?” Maka beliau
    menjawab, “Mereka adalah
    orang-orang yang mencela
    Abu Bakr dan Umar c.” (ash-
    Sharimul Maslul ‘Ala Syatimir
    Rasul hlm. 567, karya
    Syaikhul
    Islam Ibnu Taimiyah t)
    Sebutan “Rafidhah” ini erat kaitannya dengan Zaid bin
    ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin
    Abu
    Thalib dan para pengikutnya
    ketika memberontak kepada
    Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan di tahun 121 H.
    (Badzlul Majhud, 1/86)
    Asy-Syaikh Abul Hasan al-
    Asy’ari t berkata, “Zaid bin
    ‘Ali adalah seorang yang
    melebihkan ‘Ali bin Abu Thalib
    z atas seluruh sahabat
    Rasulullah n, mencintai Abu
    Bakr dan ‘Umar c, serta
    memandang bolehnya
    memberontak1 terhadap para
    pemimpin yang jahat. Maka
    ketika ia muncul di Kufah, di
    tengah-tengah para
    pengikut
    yang membai’atnya, ia mendengar dari sebagian
    mereka celaan terhadap Abu
    Bakr dan ‘Umar c. Ia pun
    mengingkarinya, hingga
    akhirnya mereka (para
    pengikutnya) meninggalkannya. Maka ia
    katakan kepada mereka:
    ﺭَﻓَﻀْﺘُﻤُﻮْﻧِﻲ؟
    “Kalian tinggalkan aku?”
    Maka dikatakanlah bahwa
    penamaan mereka dengan Rafidhah dikarenakan
    perkataan Zaid kepada
    mereka
    “Rafadhtumuunii.” (Maqalatul
    Islamiyyin, 1/137)
    Demikian pula yang dikatakan
    oleh Syaikhul Islam Ibnu
    Taimiyah t dalam Majmu’
    Fatawa (13/36).
    Rafidhah pasti Syi’ah,
    sedangkan Syi’ah belum tentu Rafidhah. Karena tidak
    semua Syi’ah membenci Abu
    Bakr dan ‘Umar
    sebagaimana
    keadaan Syi’ah Zaidiyyah.
    Rafidhah sendiri terpecah menjadi beberapa cabang.
    Namun yang lebih ditonjolkan
    dalam pembahasan kali ini
    adalah al-Itsna ‘Asyariyyah.
    Siapakah Pencetusnya?
    Pencetus pertama bagi paham
    Syi’ah Rafidhah ini adalah
    seorang Yahudi dari negeri
    Yaman (Shan’a) yang
    bernama Abdullah bin Saba’
    al-Himyari, yang menampakkan keislaman di
    masa kekhalifahan ‘Utsman
    bin Affan.2
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
    t
    berkata, “Asal ar-Rafdh ini dari munafiqin dan zanadiqah
    (orang-orang yang
    menampakkan keislaman dan
    menyembunyikan kekafiran,
    pen). Pencetusnya adalah
    Abdullah bin Saba’ az-Zindiq. Ia tampakkan sikap ekstrem
    di dalam memuliakan ‘Ali,
    dengan suatu slogan bahwa
    ‘Ali yang berhak menjadi
    imam (khalifah) dan ia adalah
    seorang yang ma’shum (terjaga dari segala dosa,
    pen).” (Majmu’ Fatawa,
    4/435)

  21. ki surya kencana mengatakan:

    Berikut ini akan dipaparkan
    prinsip (akidah) mereka dari kitab-kitab mereka yang
    ternama, untuk kemudian
    para pembaca bisa menilai
    sejauh mana kesesatan
    mereka. a. Tentang Al-
    Qur’an Di dalam kitab al-Kafi (yang
    kedudukannya di sisi mereka
    seperti Shahih al-Bukhari di
    sisi kaum muslimin), karya
    Abu
    Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini (2/634),
    dari Abu
    Abdullah (Ja’far ash-
    Shadiq),
    ia berkata, “Sesungguhnya
    Al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad (ada)
    17.000 ayat.” Di dalam Juz
    1, hlm. 239—240,
    dari Abu Abdillah ia berkata,
    “…Sesungguhnya di sisi kami
    ada mushaf Fathimah ‘alaihassalam. Mereka tidak
    tahu apa mushaf Fathimah
    itu. Abu Bashir berkata,
    ‘Apa
    mushaf Fathimah itu?’ Ia
    (Abu Abdillah) berkata, ‘Mushaf
    tiga kali lipat dari apa yang
    terdapat di dalam mushaf
    kalian. Demi Allah, tidak ada
    padanya satu huruf pun dari
    Al-Qur’an kalian…’.” (Dinukil
    dari kitab asy-Syi’ah wal
    Qur’an, hlm. 31—32, karya
    Ihsan Ilahi Zhahir)
    Bahkan salah seorang “ahli
    hadits” mereka yang bernama Husain bin
    Muhammad at-Taqi an-Nuri
    ath-Thabrisi telah
    mengumpulkan sekian
    banyak
    riwayat dari para imam mereka yang ma’shum
    (menurut mereka), di dalam
    kitabnya Fashlul Khithab fii
    Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil
    Arbab, yang menjelaskan
    bahwa Al-Qur’an yang ada ini telah mengalami
    perubahan
    dan penyimpangan. b.
    Tentang sahabat Rasulullah
    n
    Diriwayatkan oleh “imam al- jarh wat ta’dil” mereka
    (al-
    Kisysyi) di dalam kitabnya
    Rijalul Kisysyi (hlm. 12—13)
    dari Abu Ja’far (Muhammad
    al- Baqir) bahwa ia berkata,
    “Manusia (para sahabat)
    sepeninggal Nabi, dalam
    keadaan murtad kecuali tiga
    orang,” maka aku (rawi)
    berkata, “Siapakah tiga orang itu?” Ia (Abu Ja’far)
    berkata, “Al-Miqdad bin al-
    Aswad, Abu Dzar al-Ghifari,
    dan Salman al-Farisi…”
    kemudian menyebutkan
    surat Ali Imran ayat ke-144. (Dinukil
    dari asy-Syi’ah al-
    Imamiyyah
    al-Itsna ‘Asyariyyah fi
    Mizanil
    Islam, hlm. 89) Ahli hadits mereka,
    Muhammad
    bin Ya’qub al-Kulaini
    berkata, “Manusia (para
    sahabat)
    sepeninggal Nabi dalam keadaan murtad kecuali tiga
    orang: al-Miqdad bin al-
    Aswad,
    Abu Dzar al-Ghifari, dan
    Salman al-Farisi.” (al-Kafi,
    8/248, dinukil dari asy- Syi’ah
    wa Ahlil Bait, hlm. 45, karya
    Ihsan Ilahi Zhahir)

  22. Hamka STAIN Al-Fatah Jayapura mengatakan:

    @syahrir IAIN; jika anda mempertanyakan sebuah perawi dari hadis hadis syiah, maka anda perlu banyak belajar landasan prinsip hadis dalam syiah dahulu karena ada perbedaan mendasar dari sudut pandang hadis dalam syiah itu sendiri jika dibandingkan dengan landasan prinsip dalam ilmu hadis sunni, sehingga membuahkan sudut pandang yang berbeda pula. Yang anda lakukan saat ini adalah mencoba menilai hadis syiah dari sudut pandang keilmuan dalam tradisi keilmuan sunni, jelas akan tidak nyambung. contohnya; jika dalam tradisi sunni ada tokoh tokoh periwayat hadis yang dianggap siqoh atau jujur, maka dalam tradisi syiahpun ada demikian, namun sistematika cara penentuan tokoh tokoh siqoh (jujur) tersebut tidak selalu sama sistematikanya. contoh dalam sunni, salah satu syarat seseorang itu siqoh atau jujur adalah dia tidak pernah berbohong sekalipun kepada ayam misalnya. nah jika demikian maka akan ditanyakan bagaimana mengetahui seseorang tidak pernah bohong? maka dalam sunni menjelaskan syaratnya adalah; dia terkenal jujur, atau orang ramai mengenalnya jujur. ini adalah satu pandangan yang keliru, sebab kejujuran itu perbuatan hati, dan hati tdk ada yang mengetahuinya kecuali Allah. maka bagaimana mungkin seseorang dapat dikategorikan jujur sedangkan jujur itu perbuatan hati? dalam tradisi sunni, hal ini tdk mampu dijawab, maka mereka hanya menggunakan dalil bahwa jika orang banyak meyakini dia jujur maka dia masuk dalam kategori siqoh (terpercaya) maka hadis yang dia sampaikan bisa masuk dalam kategori shohi. ini dalil yang sangat lemah, sebab bagaimana mungkin hadis nabi nasibnya disandarkan pada seseorang yang status kejujurannya dijamin oleh orang lain? jika orang lain mengatakan periwayat itu jujur maka hadis yang diriwayatkannya jadi shohi? kasihan sekali hadis nabi dan kasihan sekali Allah SWT jika dalil dalil dari nabinya nasibnya ditentukan oleh orang lain? yang justru bukan Nabi! anehkan dalam tradisi hadis sunni? lalu bagaimana hadis dalam syiah? dalam syiah, seseorang dianggap jujur itu bukan dari penilaian orang lain yang justru bisa jadi lebih penipu, pembohong dan kotor, tapi melainkan dari penilaian para imam yang maksum yang suci, jika sang Imam mengatakan bahwa seseorang itu jujur maka orang syiah akan menerima org tersebut sebagai org yang terpercaya dan bisa mewakili pesan pesan dan hadis2 nabi. lalu dasar apa sang Imam bisa mengetahui kejujuran org tersebut? itulah kharomah yang diberikan Allah kepada manusia2 maksum (suci) dapat mengenal aura, sinar, cahaya seseorang. dia berdusta atau tidak itu bisa terlihat dari cahaya bathin seseorang. dan para Imam dapat mengenali mereka layaknya anda mengenali buah yang segar dan busuk di pasar.

    untuk mengetahui dalil kesucian yang melatar belakangi keabsahan penilaian Imam, maka anda perlu mempelajarinya sendiri pada pembahsan filosofis maupun dalil qur’an mengenai kesucian para imam yang hanya bisa anda pelajari pada orang syiah sendiri, jangan belajar pada orang sunni yang ga tau ajaran syiah, bisa jadi anda seperti org yang pengen belajar buat bakso kepada tukang roti, walaupun sama sama ada unsur tepung dan airnya namun memiliki resep resep campuran yang berbeda. jadi beda resep beda hasil ;)

  23. Shadowlight99 mengatakan:

    Syiah jelas ajaran yang sesat dan menyesatkan. Ajaran mereka : Taqiyyah (berpura2/dusta untuk menutupi keburukan), menganggap al quran yang ada sekarang adalah palsu, mengkafirkan semua sahabat rasul kecuali Ali, Abu Dzar, dan Salman. Jika pengin tau detil ajaran mereka, silakan merujuk pada sumber aslinya, di kitab Al Kuufi karya Al Kullaini. Sahabat Ali berlepas dari Syiah, dan sungguh, Syiah berlepas diri dari Sahabat Ali dan Ahlul Bait.

  24. MBAH ARIFYANTO mengatakan:

    ayo teleransi….toleransi…..gak boleh menyalahkan yang lain yang penting toleransi…buat kerukunan bersama,ngapain saling menghujat dan membenarkan….nurutin gitu gak ada habisnya,yang penting didunia hidup rukun dan damai,soal keyakinan apa kata hati saja jalan mana yang tepat buat dipilih,karena hidup adalah berbuat baik dengan sesama

  25. mimi mengatakan:

    Alhamdulillah, kalau saya yakin dengan ajaran yg sudah saya imani yaitu ahli sunnah waljamaah, yang termasuk islam sunny, jadi terserah orang bilang syiah baik atau buruk, whatever lah..urusan keyakinan adalah pribadi kita dengan allah SWT, tapi kalau membaca literatur tentang syiah dan sunny, malah mempertebal keyakinan saya pada yang sudah saya yakini.

  26. JAKA mengatakan:

    APAKAH SUNNI YG KITA ANUTI SELAMA INI TIDAK SEMPURNA LAGI?

    SHIAH MENGHALALKAN DARAH NYAWA DAN HARTA ISLAM SUNNI.
    MEREKA MENGKAFIR SAHABAT2 NABI s.a.w. TETAPI TIDAK PULA MENGUTUK SEPANJAG ZAMAN MUSUH2 ISLAM SEPERTI FIRAUN, ABU JAHAL DAN SEBAGAINYA.

    KEKEJAMAN SHIAH DI SYRIA MEMBUKA MATA UMAT ISLAM AKAN SIAPA SHIAH SEBENARNYA. KEZALIMAN MEREKA DILAUR KEMANUSIAAN MENYEBABKAN SHIAH TIDAK LAYAK DIANGGAP AGAMA, TETAPI LEBIH KEPADA DOKTRIN DAJJAL AKHIR ZAMAN.

    EMBAH, APAKAH EMBAH CENDERUNG KEPADA SHIAH?

  27. bsulistio71 mengatakan:

    syiah jelas ajaran sesat yang menyimpang dari ajaran islam…bukan menyalahkan..tetapi sesuai dngan ilmu shoheh yg d akui kbenaranya oleh sluruh ulama ahlusunah dri zaman para sahabat smpe skrg…

  28. MBAH ARIFYANTO mengatakan:

    nah,soal sesat wollohu a’lam ,karena semua bukan dinilai dari apa yang diajarkan,tetapi keberadaan kita di mata Alloh bagaimana. …apakah Alloh bisa nrima seluruh amal kebaikan kita atau tidak ,karena Alloh hanya menyuruh kita bertaqwa dan berlomba lomba berbuat kebaikan,bukan untuk me-vonis syiah itu sesat,syech siti jenar,panembahan senopati,ki ageng pengging,pangeran diponegoro mereka orang penganut mazab syiah apakah juga tersesat,yang menjadi permasalahan adalah ,knapa kita masih mengomongkan masalah akidah ,mending masalah ekonomi atau masalah lainnya Alloh dan para nabinya saja belum memvonis syiah atau sunni itu sesat,kita kok berani beraninya ambil kesimpulan sesat,akidah adalah masalaah keyakinan seperti halnya kita makan dengan menu yang berbeda dengan tujuan perut kenyang,mau pake sambel…mau pake ayam goreng yang penting kenyang yang penting selamat di dunia dan di akherat,dan kita gak bisa memaksa orang untuk masuk ke suatu golongan ,karena semua sudah diatur jalannya oleh Alloh,mending berbuat banyak laku kebaikan ke orang lain

    salam perdamaian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s